Bullying Terberat Justru Datang dari Orang Dewasa

  • 06 Jun 2026 17:43 WIB
  •  Malang

RRI.CO.ID., MALANG - Kasus perundungan terhadap anak berkebutuhan khusus sering kali dikaitkan dengan perilaku teman sebaya di sekolah. Namun kenyataannya, tekanan sosial terkadang justru datang dari orang dewasa yang seharusnya menjadi contoh bagi anak-anak. Pengalaman itu pernah dirasakan Hj. Mafruha saat memperjuangkan pendidikan inklusif bagi putrinya yang menyandang Down Syndrome.

Dalam dialog Pengarusutamaan Gender di RRI Malang, Hj. Mafruha mengisahkan bahwa ketika Yasmin bersekolah di SMP umum, ia sempat mendengar komentar negatif dari sejumlah wali murid. Mereka mempertanyakan keberadaan anak berkebutuhan khusus di sekolah reguler karena dianggap dapat mengganggu proses belajar siswa lainnya.

"Wali murid ngobrol, 'Ngapain sih anak seperti ini kok dimasukkan sekolah SMP Lab, jadi ganggu'. Itu posisi ada saya di situ. Saya jelaskan kalau anak-anak ini sebenarnya enggak apa-apa, sama saja seperti putra-putri ibu-ibu, cuma bedanya ada keterlambatan tumbuh kembang," ungkapnya.

Alih-alih marah, Hj. Mafruha memilih memberikan pemahaman mengenai kondisi Down Syndrome. Ia menjelaskan bahwa anak berkebutuhan khusus tetap memiliki hak yang sama untuk belajar dan bersosialisasi. Seiring waktu, para wali murid mulai memahami kondisi Yasmin dan menerima kehadirannya di lingkungan sekolah.

Senada dengan hal tersebut, pegiat komunitas inklusi Kak Zenita menegaskan bahwa tantangan terbesar dalam pengasuhan anak berkebutuhan khusus sering kali berasal dari cara pandang masyarakat. Ia mengingatkan agar orang tua tidak terlalu mendominasi keputusan anak dan lebih banyak mendengarkan kebutuhan mereka.

"Orang tua di sini tidak boleh jadi dominan. Harus berdasarkan dari sisi penggunanya, yaitu si anak. Kita harus tahu maunya anak ini apa, sukanya apa. Jangan sampai memaksakan, karena kalau sudah kena mentalnya, traumanya ini lebih susah lagi penyembuhannya," jelas Kak Zenita.

Menurutnya, inklusi tidak cukup hanya diwujudkan melalui sekolah atau fasilitas umum. Inklusi harus dimulai dari cara masyarakat memperlakukan anak berkebutuhan khusus secara setara, tanpa rasa kasihan berlebihan maupun diskriminasi. Dengan lingkungan yang menerima dan mendukung, anak-anak berkebutuhan khusus memiliki peluang yang sama untuk tumbuh mandiri, berkarya, dan berkontribusi di tengah masyarakat.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....