PET Scan untuk Kanker: Kapan Diperlukan dan Apa Fungsinya?

  • 13 Jul 2026 11:17 WIB
  •  Malang

RRI.CO.ID, Malang- PET scan atau Positron Emission Tomography merupakan salah satu pemeriksaan pencitraan medis yang berperan penting dalam diagnosis dan penanganan kanker. Teknologi ini membantu dokter mendeteksi keberadaan sel kanker, mengetahui tingkat penyebarannya, hingga mengevaluasi efektivitas pengobatan yang sedang dijalani pasien. Berbeda dengan pemeriksaan pencitraan biasa yang hanya memperlihatkan struktur organ, PET scan mampu menampilkan aktivitas metabolisme sel sehingga memberikan gambaran yang lebih detail mengenai kondisi jaringan di dalam tubuh.

Dilansir dari Siloam Hospitals, pemeriksaan PET scan dilakukan dengan menyuntikkan zat radioaktif khusus dalam dosis yang sangat kecil ke dalam pembuluh darah pasien sebelum proses pemindaian dimulai. Zat tersebut akan diserap oleh jaringan tubuh, terutama pada bagian yang memiliki aktivitas metabolisme tinggi. Sel kanker umumnya memiliki metabolisme yang lebih aktif dibandingkan sel normal sehingga akan menyerap lebih banyak zat radioaktif dan tampak lebih terang pada hasil pemindaian. Untuk memperoleh hasil yang lebih akurat, PET scan sering dipadukan dengan CT scan (PET/CT) atau MRI (PET/MRI) sehingga dokter dapat melihat lokasi, ukuran, sekaligus aktivitas sel kanker secara lebih spesifik.

Dokter biasanya merekomendasikan PET scan ketika diperlukan informasi yang lebih lengkap mengenai kondisi kanker. Pemeriksaan ini berfungsi untuk menentukan stadium kanker, mengetahui apakah sel kanker telah menyebar ke organ lain, membantu menyusun rencana terapi, termasuk radioterapi, serta memantau respons tubuh terhadap pengobatan yang sedang dijalani. Dengan informasi tersebut, dokter dapat menentukan strategi penanganan yang paling sesuai bagi setiap pasien.

Meski memiliki manfaat besar dalam dunia onkologi, PET scan tidak dilakukan pada semua pasien. Sebelum menjalani pemeriksaan, pasien perlu memberi tahu dokter apabila sedang hamil, menyusui, atau memiliki riwayat alergi terhadap zat kontras maupun bahan tertentu yang digunakan selama prosedur. Pada ibu menyusui, dokter dapat memberikan instruksi khusus, seperti menghentikan pemberian ASI sementara waktu setelah pemeriksaan hingga zat radioaktif benar-benar keluar dari tubuh.

PET scan dapat digunakan untuk membantu mendeteksi dan mengevaluasi berbagai jenis kanker, di antaranya kanker paru, kanker payudara, kanker kolorektal, kanker prostat, kanker kepala dan leher, serta kanker kelenjar getah bening atau limfoma. Selain itu, pemeriksaan ini juga dapat membantu menilai kanker otak ketika hasil pemeriksaan lain belum memberikan gambaran yang jelas, serta mengevaluasi penyebaran kanker rahim, kanker tenggorokan, kanker kulit, kanker tiroid, hingga kanker pankreas.

Dari sisi keamanan, PET scan tergolong sebagai prosedur yang relatif aman dengan risiko efek samping yang rendah. Sebagian besar pasien dapat langsung kembali beraktivitas setelah pemeriksaan selesai. Efek samping yang paling sering muncul hanyalah rasa nyeri atau tidak nyaman ringan pada area bekas suntikan, yang biasanya akan hilang dengan sendirinya. Dokter juga umumnya menganjurkan pasien untuk memperbanyak konsumsi air putih setelah pemeriksaan agar zat radioaktif yang digunakan dapat lebih cepat dikeluarkan melalui urine.

PET scan menjadi salah satu teknologi pencitraan yang berperan penting dalam meningkatkan akurasi diagnosis dan penanganan kanker. Dengan kemampuan mendeteksi aktivitas sel kanker secara lebih dini dan rinci, pemeriksaan ini membantu dokter menentukan pengobatan yang lebih tepat sekaligus memantau keberhasilan terapi. Meski demikian, keputusan menjalani PET scan tetap harus berdasarkan rekomendasi dokter sesuai kondisi dan kebutuhan masing-masing pasien.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....