Psikiater: Media Sosial Bisa Memicu Gangguan Mental

  • 02 Jul 2026 12:53 WIB
  •  Malang

RRI.CO.ID, Malang - Media sosial tidak hanya menjadi sarana hiburan dan berbagi informasi, tetapi juga dapat memengaruhi kondisi kesehatan mental apabila digunakan secara tidak bijak. Kebiasaan membandingkan diri dengan kehidupan orang lain di media sosial dinilai berpotensi memicu stres, kecemasan, hingga rasa tidak percaya diri.

Hal tersebut disampaikan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa RS Dr. Radjiman Wediodiningrat Lawang, dr. Ika, Sp.KJ, saat diwawancarai oleh host Pro 2 RRI Malang, dalam program Jaga Malam bertema Mental Health Check: Sudahkah Kita Peduli?

Menurutnya media sosial sebenarnya memiliki dua sisi. Di satu sisi dapat dimanfaatkan sebagai sumber edukasi mengenai kesehatan mental, namun di sisi lain dapat memberikan dampak negatif apabila seseorang menjadikannya sebagai standar untuk menilai kehidupannya.

"Media sosial bisa berpengaruh positif, juga bisa berpengaruh negatif. Positif apabila kita gunakan secara bijak untuk mendapatkan informasi yang valid. Tetapi kalau digunakan untuk membandingkan diri dengan orang lain atau sekadar mengikuti tren tanpa melihat kondisi diri sendiri, itu bisa membuat kita tertekan," ujar dr. Ika saat di wawancarai melalui sambungan telepon dalam program Jaga Malam Mental Health di Pro 2 Malang, Rabu (1/7/2026)

Ia menjelaskan, banyak pengguna media sosial hanya menampilkan sisi terbaik dari kehidupannya. Apabila hal tersebut dijadikan tolok ukur, seseorang berisiko memiliki ekspektasi yang tidak sesuai dengan realitas kehidupannya sendiri.

"Yang diunggah di media sosial biasanya adalah potret terbaik seseorang. Kalau itu kita telan mentah-mentah dan terus dibandingkan dengan kehidupan kita sendiri, akhirnya muncul kesenjangan antara ekspektasi dan realita. Nah, itu bisa menjadi sumber stres," katanya.

Dr. Ika mengatakan, fenomena fear of missing out (FOMO), rasa tidak percaya diri (insecure), hingga kebiasaan overthinking juga sering dipicu oleh paparan media sosial. Menurutnya, kondisi tersebut dapat memengaruhi kesehatan mental apabila dibiarkan berlangsung dalam waktu lama.

"Kalau kita terus-menerus membandingkan diri dengan orang lain, padahal kemampuan, tujuan hidup, dan kondisi setiap orang berbeda, tentu itu akan menjadi tekanan bagi diri sendiri," jelasnya.

Lebih lanjut, dr. Ika mengungkapkan bahwa salah satu sumber stres adalah adanya kesenjangan antara harapan dengan kenyataan. Ketika seseorang menetapkan target berdasarkan kehidupan orang lain di media sosial, tekanan psikologis akan lebih mudah muncul apabila target tersebut sulit dicapai.

Karena itu, ia mengimbau masyarakat, khususnya generasi muda, agar menggunakan media sosial secara lebih bijak. Informasi yang diperoleh perlu disaring, sementara pencapaian orang lain sebaiknya dijadikan motivasi, bukan sebagai ukuran keberhasilan diri.

"Ukuran keberhasilan setiap orang berbeda-beda. Yang penting adalah mengenali kemampuan diri sendiri dan tidak memaksakan diri mengikuti standar yang dibuat orang lain," tutup dr. Ika.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....