Cegah Pikun dan Risiko Jatuh, Lansia Perlu Aktif Bergerak dan Bersosialisasi
- 10 Jun 2026 09:42 WIB
- Malang
RRI.CO.ID, Malang - Menjaga kesehatan lansia tidak cukup hanya melalui asupan makanan bergizi. Aktivitas fisik yang teratur, interaksi sosial, serta dukungan keluarga juga menjadi faktor penting dalam menjaga kesehatan fisik dan mental para lanjut usia.
Dosen Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Brawijaya, sekaligus Anggota Komunitas Pro Women Malang, Catur Saptaning Wilujeng, S.Gz., MPH, mengatakan bahwa salah satu masalah yang kerap muncul pada lansia adalah penurunan fungsi kognitif atau demensia. Kondisi tersebut dapat diperlambat melalui pola hidup sehat yang diterapkan sejak usia pralansia.
“Tujuannya bukan untuk menyembuhkan demensia, tetapi mencegah dan memperlambat progresnya agar tidak semakin parah,” jelas Catur, Selasa (9/6/2026).
Menurutnya, beberapa zat gizi yang berperan dalam menjaga kesehatan otak antara lain vitamin B6, omega-3, dan zinc. Nutrisi tersebut dapat diperoleh dari berbagai sumber makanan seperti ikan, seafood, susu, buah, dan sayuran. Namun konsumsi makanan tersebut tetap perlu disesuaikan dengan kondisi kesehatan masing-masing lansia.
Selain memperhatikan asupan gizi, aktivitas fisik juga memiliki peran besar dalam menjaga kebugaran dan fungsi otak. Catur menyebut berbagai kegiatan seperti senam lansia, tai chi, hingga senam otak dapat menjadi pilihan aktivitas yang aman dan bermanfaat bagi lansia.
“Tai chi bagus untuk melatih kelenturan, keseimbangan, konsentrasi, dan mencegah lansia mudah jatuh. Ada juga senam otak yang dapat membantu menjaga fungsi kognitif lansia,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa risiko jatuh menjadi salah satu masalah kesehatan yang harus diwaspadai pada kelompok lanjut usia. Ketika lansia mengalami cedera akibat jatuh, proses pemulihannya biasanya berlangsung lebih lama dibandingkan usia muda. Kondisi tersebut bahkan dapat meningkatkan ketergantungan lansia terhadap keluarga dan memengaruhi kesehatan mentalnya.
“Ketika lansia jatuh, penyembuhannya lama. Ketergantungan terhadap caregiver juga semakin tinggi dan ini bisa memengaruhi kondisi mental lansia,” kata Catur.
Karena itu, ia mendorong keluarga untuk aktif mendampingi lansia mengikuti Posyandu Lansia, Program Pengelolaan Penyakit Kronis (Prolanis), sekolah lansia, maupun berbagai komunitas sosial yang tersedia di lingkungan sekitar. Menurutnya, aktivitas sosial dan dukungan keluarga menjadi bagian penting dalam mewujudkan lansia yang sehat, mandiri, dan tetap memiliki kualitas hidup yang baik di masa tua.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....