Dokter Kardiovaskular Ingatkan Pentingnya Kontrol Jantung Selama Ramadan
- 03 Mar 2026 10:47 WIB
- Malang
RRI.CO.ID, Malang – Perubahan pola makan dan jadwal aktivitas selama Ramadan dapat berdampak pada tekanan darah maupun denyut jantung, terutama bagi penderita penyakit jantung. dr. Andreago, PPDS Kardiovaskular Universitas Brawijaya Malang, mengingatkan agar pasien jantung tidak mengabaikan kontrol kesehatan selama menjalankan ibadah puasa.
Menurutnya, perubahan frekuensi makan dari tiga kali menjadi dua kali sehari memengaruhi metabolisme tubuh dan kerja organ, termasuk jantung. “Biasanya makan tiga kali sehari, saat puasa menjadi dua kali, ini tentu sangat memengaruhi kerja jantung,” ujarnya dalam dialog Malang Siang Ini di Pro 1 RRI Malang, Senin (2/3/2026). Ia menjelaskan, jika saat berbuka seseorang langsung mengonsumsi makanan dalam jumlah besar atau tinggi lemak dan gula, kondisi tersebut bisa memicu lonjakan tekanan darah serta meningkatkan beban kerja jantung secara tiba-tiba.
Lebih lanjut, dr. Andreago menilai kebiasaan ‘balas dendam’ saat berbuka justru berisiko menimbulkan keluhan seperti dada berdebar, sesak napas, hingga nyeri dada. Karena itu, ia menyarankan pola makan bertahap, dimulai dari yang ringan dan tidak berlebihan. Pengaturan porsi dan komposisi makanan menjadi kunci agar tekanan darah tetap stabil dan irama jantung tidak terganggu.
Terkait konsumsi obat, ia menegaskan bahwa penderita jantung tidak boleh menghentikan atau mengubah jadwal minum obat tanpa arahan medis. “Pengaturan obat harus disesuaikan. Kalau biasanya diminum dua kali sehari, bisa diatur saat berbuka dan sahur, tapi tetap perlu konsultasi,” jelasnya. Penyesuaian dosis maupun waktu minum obat harus dilakukan secara hati-hati agar efektivitas terapi tetap terjaga dan tidak menimbulkan efek samping.
Selain itu, aktivitas fisik tetap dianjurkan selama Ramadan, asalkan dilakukan dengan intensitas ringan hingga sedang dan sesuai kemampuan. “Secara garis besar, jalan kaki, bersepeda santai, atau berenang masih aman dilakukan,” ungkapnya. Namun, ia mengingatkan agar tidak memaksakan diri. Jika muncul keluhan seperti pusing, sesak, atau nyeri dada, aktivitas harus segera dihentikan dan pasien disarankan untuk memeriksakan diri.
Dengan pemantauan rutin, pengaturan obat yang tepat, serta pola makan dan aktivitas yang terkontrol, penderita jantung tetap dapat menjalankan puasa dengan aman. Ia pun mengimbau agar pasien tidak ragu berkonsultasi sebelum Ramadan agar kondisi jantung tetap stabil sepanjang bulan ibadah.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....