Gizi, Imunisasi, Sanitasi Kunci Cegah Stunting

  • 08 Feb 2026 17:01 WIB
  •  Malang

RRI.CO.ID, Malang - Upaya pencegahan stunting terus ditekankan melalui optimalisasi 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), yakni sejak masa kehamilan hingga anak berusia dua tahun. Periode ini menjadi fondasi utama pertumbuhan dan perkembangan anak, baik secara fisik maupun kognitif, sehingga membutuhkan perhatian serius dari keluarga dan lingkungan.

Dosen Jurusan Kebidanan Poltekkes Malang, Dr. Heny Astutik, S.Kep.Ners, M.Kes, menjelaskan bahwa stunting merupakan kondisi gagal tumbuh akibat kekurangan gizi kronis yang berlangsung lama. Dampaknya tidak hanya terlihat dari tinggi dan berat badan anak yang tidak sesuai usia, tetapi juga memengaruhi perkembangan otak.

Stunting bukan hanya soal anak pendek, tapi juga berdampak pada perkembangan intelektual, motorik, dan kognitifnya, sehingga asupan gizi seimbang sangat penting sejak awal kehidupan,” ujarnya saat tengah berdialog dalam Program Beranda Asta Cita PRO 1 RRI Malang, Minggu (8/2/2026).

Selain faktor gizi, sanitasi lingkungan juga berperan besar terhadap terjadinya stunting. Lingkungan yang kurang bersih meningkatkan risiko infeksi penyakit pada anak, yang pada akhirnya menghambat penyerapan nutrisi. Untuk meningkatkan daya tahan tubuh, anak juga harus mendapatkan imunisasi lengkap sesuai jadwal.

Hal ini ditegaskan oleh Ita Yuliani, S.ST., M.Keb, yang menyebut imunisasi dasar wajib diberikan sebelum anak berusia satu tahun. “Imunisasi dasar harus lengkap sebelum usia satu tahun, karena ini penting untuk membangun kekebalan tubuh dan mencegah penyakit infeksi yang bisa memicu stunting,” jelasnya.

Ia menambahkan, di Kota Malang kasus penolakan imunisasi relatif jarang terjadi karena orang tua sudah banyak terpapar edukasi kesehatan. Namun, jika masih ada keluarga yang menunda imunisasi, tenaga kesehatan dan kader memiliki peran penting untuk terus mengingatkan jadwal imunisasi sesuai ketentuan.

Ketika angka stunting meningkat, pemerintah daerah menetapkan wilayah tertentu sebagai lokus penanganan dengan pembinaan intensif. Upaya tersebut meliputi pemberian makanan tambahan, edukasi gizi, pemantauan tumbuh kembang bayi, hingga kerja sama lintas sektor. Namun, perubahan perilaku masyarakat tidak dapat dilakukan secara instan.

Mengentaskan stunting tidak cukup hanya dengan menimbang berat badan, tapi juga memastikan pengukuran benar, lingkungan sehat, serta meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya gizi seimbang,” kata Dr. Heny.

Kedua narasumber berharap masyarakat semakin aktif membawa balita ke posyandu secara rutin. Kader kesehatan akan melakukan pemantauan, bahkan mendatangi keluarga yang tidak hadir, termasuk memberikan edukasi kepada pengasuh anak seperti nenek atau pengasuh rumah tangga. Peran kader dinilai sangat krusial dalam memastikan tidak ada anak yang luput dari perhatian dalam upaya pencegahan stunting.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....