Guru Sejarah Dorong Pembelajaran yang Menyenangkan dan Bermakna
- 29 Sep 2026 14:27 WIB
- Malang
RRI.CO.ID, Malang - Pelajaran sejarah masih kerap dianggap sebagai mata pelajaran yang identik dengan hafalan dan membosankan. Stigma tersebut menjadi salah satu tantangan bagi guru sejarah untuk menciptakan pembelajaran yang menarik dan membuat siswa terlibat aktif.
Guru Sejarah SMK Putra Indonesia, Fahrisyal Ainur, mengatakan pembelajaran sejarah tidak seharusnya hanya berfokus pada kemampuan siswa menghafal berbagai peristiwa dan tahun.
Dalam dialog SPADA Kita Indonesia, Fahrisyal mengatakan salah satu misinya sebagai guru sejarah adalah menciptakan pembelajaran yang menyenangkan sekaligus memberikan makna bagi siswa.
“Misi saya sebagai seorang guru sejarah, yang pertama adalah pembelajaran itu harus joyful dan meaningful. Anak-anak itu harus menikmati prosesnya, bisa dibuat sebuah permainan atau kegiatan lainnya, jadi mereka gembira ketika berproses,” ujar Fahrisyal, Senin (21/9/2026).
Ia mengatakan, dirinya tidak menargetkan seluruh siswa harus memiliki kemampuan akademik yang tinggi dalam bidang sejarah. Menurutnya, hal yang lebih penting adalah siswa terlebih dahulu mengetahui dan memahami sebuah peristiwa sejarah.
“Tidak harus semua anak menjadi pintar sejarah. Yang paling penting mereka tahu dan memahami sebuah peristiwa. Kalau kemudian mereka tertarik untuk mempelajarinya lebih dalam, itu bisa berkembang sesuai dengan minat masing-masing,” katanya.
Fahrisyal juga mengarahkan pembelajaran sejarah untuk mengembangkan sejumlah keterampilan yang dapat digunakan siswa dalam kehidupan sehari-hari. Keterampilan tersebut antara lain membaca, menulis, storytelling, hingga kemampuan melakukan presentasi.
Salah satu metode yang diterapkan adalah memberikan kesempatan kepada siswa membuat cerita fiksi dengan latar belakang sejarah. Melalui kegiatan tersebut, siswa tidak hanya belajar memahami peristiwa sejarah, tetapi juga dapat mengembangkan kreativitas dan kemampuan bercerita.
Menurut Fahrisyal, berbagai kemampuan tersebut tetap bermanfaat bagi siswa meskipun mereka nantinya tidak bekerja di bidang sejarah.
“Kemampuan membaca, menyampaikan cerita, berbicara di depan orang lain, dan berkomunikasi itu akan tetap berguna. Itu bisa menjadi bekal ketika mereka melanjutkan pendidikan maupun ketika masuk ke dunia kerja,” ujarnya.
Ia berharap pembelajaran sejarah dapat menjadi ruang bagi siswa untuk memahami masa lalu sekaligus mengembangkan keterampilan yang relevan dengan kehidupan mereka di masa depan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....