Belajar Matematika dari Arca di Museum Mpu Purwa
- 15 Sep 2026 14:25 WIB
- Malang
RRI.CO.ID, Malang - Arca dan peninggalan sejarah di Museum Mpu Purwa Kota Malang tidak hanya menjadi objek wisata dan pembelajaran sejarah. Bentuk, pola, simetri hingga ukuran pada artefak tersebut juga dapat digunakan untuk mengenalkan konsep matematika secara lebih kontekstual.
Potensi tersebut dieksplorasi mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD), Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) Universitas Negeri Malang melalui pembelajaran etnomatematika. Sebanyak 45 mahasiswa PGSD FIP kelas C melakukan praktikum lapangan di Museum Mpu Purwa.
Praktikum mata kuliah Matematika SD yang dibimbing dosen Rudy Setiawan, S.Pd., M.Pd., tersebut mengangkat tema penerapan etnomatematika berbasis budaya lokal pada arca di Museum Mpu Purwa.
“Mahasiswa dapat mengamati langsung berbagai arca dan peninggalan sejarah untuk mengidentifikasi konsep matematika yang terdapat pada bentuk maupun pola artefak. Konsep seperti geometri, simetri dan pengukuran yang selama ini dipelajari secara teoritis kemudian dikaitkan dengan objek yang dapat mereka lihat secara langsung,” kata Rudy Setiawan, Selasa (15/9/2026).
Potensi tersebut dieksplorasi mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD), Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) Universitas Negeri Malang melalui pembelajaran etnomatematika. Sebanyak 45 mahasiswa PGSD FIP kelas C melakukan praktikum lapangan di Museum Mpu Purwa.
Praktikum mata kuliah Matematika SD yang dibimbing dosen Rudy Setiawan, S.Pd., M.Pd., tersebut mengangkat tema penerapan etnomatematika berbasis budaya lokal pada arca di Museum Mpu Purwa.
“Mahasiswa dapat mengamati langsung berbagai arca dan peninggalan sejarah untuk mengidentifikasi konsep matematika yang terdapat pada bentuk maupun pola artefak. Konsep seperti geometri, simetri dan pengukuran yang selama ini dipelajari secara teoritis kemudian dikaitkan dengan objek yang dapat mereka lihat secara langsung,” kata Rudy Setiawan, Selasa (15/9/2026).
Ia mengatakan, pendekatan tersebut diperlukan agar mahasiswa calon guru tidak memandang matematika sebagai ilmu yang hanya dipelajari melalui rumus dan teori di kelas.
“Kami ingin mengajak mahasiswa melihat bahwa matematika bukanlah ilmu yang kaku dan abstrak. Kearifan lokal, seperti arca-arca peninggalan sejarah, menyimpan banyak konsep geometri dan pola matematis,” ujarnya.
Menurut Rudy, pengalaman tersebut nantinya dapat diterapkan mahasiswa ketika menjadi guru sekolah dasar. Lingkungan sekitar dan kekayaan budaya lokal dapat dimanfaatkan sebagai media untuk membuat pembelajaran matematika lebih dekat dengan kehidupan siswa.
Kepala Program Studi PGSD FIP, Moh Farid Nurul Anwar mengungkapkan, pembelajaran berbasis etnomatematika juga dapat menjadi cara untuk mengenalkan budaya lokal kepada calon pendidik.
Ia berharap pengalaman belajar di luar kelas tersebut mendorong mahasiswa mengembangkan pembelajaran yang kreatif sekaligus tetap memperkenalkan kekayaan budaya Indonesia.
Salah seorang mahasiswa PGSD Kelas C, Valeriana Helvi Sri Putri mengatakan, kegiatan tersebut memberikan perspektif baru dalam mempelajari matematika. Menurutnya, konsep yang sebelumnya dipahami di ruang kelas ternyata dapat ditemukan pada bentuk arca dan peninggalan sejarah.
“Konsep matematika yang selama ini kami pelajari di kelas bisa ditemukan secara nyata pada relief dan bentuk arca di Museum Mpu Purwa,” katanya.
Penelitian mengenai eksplorasi etnomatematika berbasis budaya lokal tersebut berlangsung sejak April hingga September 2026. Kajian ini diarahkan untuk melihat potensi peninggalan budaya lokal sebagai sumber pembelajaran matematika, khususnya di tingkat sekolah dasar.
Selain memperkaya pembelajaran matematika, pendekatan tersebut diharapkan dapat membantu calon guru mengembangkan metode belajar yang kontekstual sekaligus memperkenalkan budaya lokal kepada peserta didik.
“Kami ingin mengajak mahasiswa melihat bahwa matematika bukanlah ilmu yang kaku dan abstrak. Kearifan lokal, seperti arca-arca peninggalan sejarah, menyimpan banyak konsep geometri dan pola matematis,” ujarnya.
Menurut Rudy, pengalaman tersebut nantinya dapat diterapkan mahasiswa ketika menjadi guru sekolah dasar. Lingkungan sekitar dan kekayaan budaya lokal dapat dimanfaatkan sebagai media untuk membuat pembelajaran matematika lebih dekat dengan kehidupan siswa.
Kepala Program Studi PGSD FIP, Moh Farid Nurul Anwar mengungkapkan, pembelajaran berbasis etnomatematika juga dapat menjadi cara untuk mengenalkan budaya lokal kepada calon pendidik.
Ia berharap pengalaman belajar di luar kelas tersebut mendorong mahasiswa mengembangkan pembelajaran yang kreatif sekaligus tetap memperkenalkan kekayaan budaya Indonesia.
Salah seorang mahasiswa PGSD Kelas C, Valeriana Helvi Sri Putri mengatakan, kegiatan tersebut memberikan perspektif baru dalam mempelajari matematika. Menurutnya, konsep yang sebelumnya dipahami di ruang kelas ternyata dapat ditemukan pada bentuk arca dan peninggalan sejarah.
“Konsep matematika yang selama ini kami pelajari di kelas bisa ditemukan secara nyata pada relief dan bentuk arca di Museum Mpu Purwa,” katanya.
Penelitian mengenai eksplorasi etnomatematika berbasis budaya lokal tersebut berlangsung sejak April hingga September 2026. Kajian ini diarahkan untuk melihat potensi peninggalan budaya lokal sebagai sumber pembelajaran matematika, khususnya di tingkat sekolah dasar.
Selain memperkaya pembelajaran matematika, pendekatan tersebut diharapkan dapat membantu calon guru mengembangkan metode belajar yang kontekstual sekaligus memperkenalkan budaya lokal kepada peserta didik.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....