Profesor UB Tawarkan Pendekatan Baru dalam Penyuluhan Pertanian

  • 22 Sep 2026 10:51 WIB
  •  Malang

RRI.CO.ID, Malang - Keputusan petani untuk menggunakan inovasi pertanian tidak selalu ditentukan oleh seberapa baik mereka memahami teknologi. Pertimbangan terhadap pengalaman, kondisi lapangan, manfaat, hingga risiko menjadi bagian penting sebelum petani memutuskan mengadopsi sebuah inovasi.

Persoalan tersebut menjadi perhatian Prof. Ir. Edi Dwi Cahyono, M.Agr.Sc., M.S., Ph.D., yang dikukuhkan sebagai profesor dalam bidang Ilmu Penyuluhan dan Komunikasi Pertanian pada Fakultas Bio-Industri Pertanian dan Kehutanan (FBIPK) Universitas Brawijaya (UB). Ia merupakan profesor aktif ke 258 di UB, dan ke 456 dari seluruh profesor yang telah dihasilkan UB.

Dalam pidato pengukuhannya pada Selasa (229/2026), Prof. Edi memperkenalkan model E/D/C-RITA, yakni model penyuluhan dan komunikasi untuk mendorong adopsi inovasi pertanian berkelanjutan.

Model tersebut dikembangkan dari pengalaman penelitian dan pengamatan lapangan selama 38 tahun. Prof. Edi melihat, petani yang sudah mengetahui bahkan menyukai sebuah inovasi belum tentu langsung menggunakannya.

Menurutnya, keputusan tersebut tidak serta-merta menunjukkan bahwa petani gagal memahami inovasi. Petani dapat melakukan berbagai pertimbangan sebelum menentukan pilihan, termasuk mencoba terlebih dahulu, melihat hasil, berdiskusi dengan pihak lain, atau menyesuaikan inovasi dengan kondisi mereka.

"Petani tahu, aware, bahkan senang dengan varietas yang baru. Mereka juga ingin menggunakannya, tetapi sering kali mereka tidak mengadopsinya. Itu yang menjadi perhatian saya selama ini," katanya.

Ia menjelaskan, selama ini adopsi inovasi kerap dipandang secara sederhana, yakni petani menerima atau menolak sebuah inovasi. Padahal, dalam praktiknya terdapat sejumlah kemungkinan di antara kedua pilihan tersebut.

Petani bisa saja melakukan percobaan terlebih dahulu, bekerja sama dengan petani lain, atau bahkan mengembangkan inovasi baru melalui proses kolaborasi atau co-creation.

Karena itu, model E/D/C-RITA menempatkan proses refleksi sebagai bagian penting dalam keputusan petani. RITA merupakan akronim dari Reflective, Integrated, Threshold, sementara E/D/C merupakan strategi penyuluhan yang dikembangkan berdasarkan temuan empiris penelitian Prof. Edi.

"Tekanannya pada reflectivity. Petani melihat pengalaman masa lampau, melihat konteks, kemudian mempertimbangkan apa yang sebenarnya mereka pikirkan sebelum mengambil keputusan," jelasnya.

Model tersebut mengintegrasikan sejumlah teori yang sebelumnya banyak menjelaskan aspek adopsi inovasi secara terpisah, mulai dari penyebaran inovasi, perilaku terencana, hingga faktor kelembagaan yang memungkinkan petani mengakses dan menggunakan inovasi.

Melalui pendekatan tersebut, penyuluh tidak hanya ditempatkan sebagai penyampai informasi. Penyuluh diharapkan menjadi mitra yang membantu petani mengidentifikasi persoalan, mempertimbangkan pilihan, dan menemukan solusi yang sesuai dengan kondisi mereka.

Model E/D/C-RITA juga dilengkapi COAST Framework, berupa instrumen 30 item untuk membantu penyuluh mengidentifikasi hambatan adopsi inovasi sekaligus menentukan pendekatan yang sesuai.

Prof. Edi menilai penguatan penyuluhan juga membutuhkan kolaborasi dengan pihak di luar lembaga penyuluhan, termasuk lembaga yang memiliki kompetensi teknis dan mampu menghadirkan inovasi bagi petani.

"Jangan dipaksa-terpaksa-terbiasa, tetapi diajak-menimbang-memandirikan," kata profesor aktif ke-25 di FBIPK ini.

Menurut Prof. Edi, pendekatan tersebut diharapkan dapat mengubah pola penyuluhan dari sekadar mendorong petani menggunakan inovasi menjadi proses yang membantu petani mengambil keputusan secara mandiri.

“Sehingga tujuan penyuluhan bukan hanya meningkatkan tingkat adopsi inovasi, tetapi juga membangun kemandirian petani serta mendukung sistem pertanian yang berkelanjutan,” tandasnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....