Tak Lagi Asal Semprot, Mahasiswa UMM Gagas SiBAWANG untuk Deteksi Hama Bawang Merah

  • 11 Sep 2026 15:26 WIB
  •  Malang

RRI.CO.ID, Malang - Bayangkan tanaman bawang merah dapat “memanggil” bantuan ketika hama mulai menyerang. Petani tidak lagi harus terus-menerus berkeliling mencari keberadaan hama, karena sistem pintar dapat membantu mendeteksi serangan, memantau populasi, dan menentukan kapan pengendalian perlu dilakukan. Gagasan tersebut ditawarkan mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melalui SiBAWANG, sistem deteksi dan penyemprotan presisi berbasis sensor dan Internet of Things (IoT).

Gagasan SiBAWANG berangkat dari persoalan pengendalian hama pada tanaman bawang merah yang selama ini tidak terlepas dari penggunaan pestisida. Serangan organisme pengganggu tanaman dapat mengancam produktivitas, sementara penyemprotan berulang tanpa mempertimbangkan keberadaan dan populasi hama berpotensi meningkatkan biaya produksi serta memberikan dampak terhadap lingkungan. Karena itu, tim menawarkan pendekatan yang menempatkan deteksi hama sebagai langkah awal sebelum tindakan penyemprotan dilakukan.

SiBAWANG dirancang menggunakan perangkap pintar yang dilengkapi sensor dan kamera untuk mendeteksi keberadaan hama. Informasi tersebut kemudian dikirim melalui sistem IoT sehingga kondisi populasi hama dapat dipantau secara real time. Data yang diperoleh menjadi dasar untuk menentukan apakah populasi hama telah mencapai ambang kendali. Jika ambang tersebut terpenuhi, sistem dirancang untuk mengaktifkan penyemprotan secara lebih terarah pada area yang membutuhkan pengendalian.

Konsep utama SiBAWANG adalah mengubah pola “semprot dulu” menjadi “deteksi, tentukan ambang kendali, lalu semprot secara presisi”. Dengan pendekatan tersebut, penyemprotan tidak lagi dilakukan secara rutin dan menyeluruh, tetapi berdasarkan informasi mengenai keberadaan serta populasi hama. Tim berharap konsep ini nantinya dapat membantu meningkatkan efisiensi penggunaan pestisida sekaligus mendukung pengendalian organisme pengganggu tanaman yang lebih ramah lingkungan.

Gagasan SiBAWANG digagas Muchammad Choirul Anwar dan Muhammad Ahdi Furqon dari Program Studi Agroteknologi, bersama Muhammad Zaki Fathur Rohman dan Reza Nur Wahid Etsaputra dari Program Studi Ilmu Komunikasi UMM. Mahasiswa Agroteknologi berfokus pada aspek pertanian, sumber informasi, serta perancangan sistem pengendalian hama. Sementara mahasiswa Ilmu Komunikasi mengembangkan aspek produksi, penyuntingan, publikasi, dan penyebaran gagasan.

Kolaborasi lintas bidang tersebut menjadi salah satu kekuatan dalam pengembangan SiBAWANG. Inovasi pertanian tidak hanya membutuhkan solusi teknis, tetapi juga cara penyampaian yang dapat dipahami masyarakat. Dengan demikian, teknologi yang dikembangkan diharapkan dapat diposisikan sebagai alat bantu bagi petani dalam mengambil keputusan pengendalian hama.

Gagasan tersebut mendapat pendampingan dari Ilmam Zul Fahmi, S.P., M.Sc., dosen UMM yang memiliki bidang keahlian Ilmu Hama Tumbuhan. Keterlibatan dosen tersebut turut memperkuat aspek pengendalian organisme pengganggu tanaman dalam pengembangan konsep SiBAWANG. Tim menempatkan teknologi sebagai alat bantu bagi petani dalam mengambil keputusan, bukan sebagai pengganti peran petani.

Meski membawa konsep yang futuristis, SiBAWANG saat ini masih berada pada tahap gagasan dan perancangan prototipe. Konsep tersebut divisualisasikan melalui video kreatif sebagai bagian dari Program Kreativitas Mahasiswa Video Gagasan Konstruktif (PKM-VGK). Tahap pengembangan berikutnya diarahkan pada pembuatan dan pengujian prototipe secara terbatas di lahan bawang merah.

Pengujian nantinya diperlukan untuk melihat kinerja sistem dalam mendeteksi hama, pengaruh kondisi lingkungan terhadap sensor dan kamera, efektivitas pengendalian, serta efisiensi penggunaan pestisida. Hasil pengujian tersebut diharapkan dapat menjadi dasar untuk menyempurnakan sistem sebelum dikembangkan lebih lanjut.

Jika berhasil dikembangkan, SiBAWANG berpotensi membawa perubahan dalam praktik pengendalian hama bawang merah. Petani tidak hanya dihadapkan pada pertanyaan kapan harus menyemprot, tetapi juga dapat memperoleh informasi mengenai apakah tanaman memang membutuhkan penyemprotan dan area mana yang memerlukan pengendalian.

Melalui gagasan tersebut, tim PKM-VGK SiBAWANG 2026 berharap inovasi berbasis teknologi dapat menjadi salah satu alternatif untuk mendukung pertanian yang lebih efisien dan presisi. Pemanfaatan sensor, kamera, dan IoT diharapkan dapat membantu pengambilan keputusan pengendalian hama dengan tetap menempatkan petani sebagai pihak utama dalam pengelolaan lahan. (Tim PKM-VGK SiBAWANG 2026)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....