Kenalkan Buku Digital Sesuai Usia dan Kemampuan Anak

  • 09 Sep 2026 10:27 WIB
  •  Malang

RRI.CO.ID, Malang - Orang tua perlu memperhatikan usia dan kemampuan membaca anak sebelum memilih buku digital. Pemilihan bacaan yang sesuai akan membantu anak memahami cerita sekaligus membuat aktivitas membaca terasa menyenangkan.

Anggota Komunitas Read Aloud Malang Raya, Kak Nabila dan Kak Andina, menyebut buku digital sebaiknya tidak diberikan secara sembarangan. Orang tua perlu melihat jenjang membaca, tema, bahasa, serta karakteristik isi buku sebelum memberikannya kepada anak.

Beberapa platform bahkan telah menyediakan penanda atau kategori berdasarkan kemampuan membaca. Dalam dialog tersebut dijelaskan adanya kategori seperti A, B1, B2, B3, C, D dan E yang membantu orang tua menentukan bacaan sesuai perkembangan anak.

Kategori tersebut membuat orang tua lebih mudah memperkirakan apakah sebuah buku terlalu sederhana atau justru terlalu berat bagi anak. Untuk anak yang masih berada pada tahap awal membaca, buku dengan teks lebih sedikit dan ilustrasi yang mendukung cerita dapat menjadi pilihan.

Selain usia dan jenjang membaca, tema juga dapat menjadi pertimbangan. Anak dapat diarahkan memilih bacaan tentang bahasa, sains, pengetahuan umum, laut, bintang, angkasa, maupun tema lain sesuai minatnya.

Menurut narasumber, buku digital juga dapat membantu anak memahami urutan cerita karena banyak aplikasi menampilkan halaman secara bertahap. Teks yang relatif singkat dan ilustrasi yang mendukung membuat anak lebih mudah mengikuti alur cerita.

“Kalau saya sih dulu di awal itu saya mengenalkan anak buku fisik ya. Karena kalau dari bayi, saya mengenalkan buku ini dari bayi,” ujar Andina.

Pengenalan buku digital juga sebaiknya memperhatikan tahap perkembangan anak. Narasumber menyarankan anak pada usia sangat dini, terutama di bawah dua tahun, lebih banyak dikenalkan dengan buku fisik.

“Saya sarankan kalau di usia awal-awal, apalagi masih 1 tahun atau 2 tahun, itu baiknya buku fisik. Tapi nanti setelah 2 tahun ke atas mungkin sampai 5 tahun ke atas itu bisa mulai diperkenalkan buku digital,” ungkapnya.

Untuk anak di atas dua tahun, buku digital mulai dapat diperkenalkan secara bertahap. Fitur interaktif, ilustrasi, dan suara dalam buku digital dapat menjadi daya tarik tambahan, tetapi orang tua tetap harus mengawasi penggunaannya.

Sementara untuk anak yang sudah lebih besar, penggunaan buku digital dapat dikembangkan menjadi kegiatan membaca yang lebih mandiri. Meski demikian, orang tua tetap perlu mengetahui apa yang dibaca dan memastikan anak memahami isi buku.

Kak Nabila juga mencontohkan pemanfaatan buku digital untuk situasi tertentu. Ketika orang tua sedang sibuk, audiobook dapat menjadi alternatif agar anak tetap memperoleh bahan bacaan yang layak tanpa harus selalu dibacakan secara langsung.

“Kalau itu mulainya dari usia 3 tahun saya sudah kenalkan dia karena dia sebelumnya sudah kenal buku,” ucap Nabila.

Buku digital juga dapat dimanfaatkan dalam kegiatan pendidikan di sekolah. Buku yang tersedia dalam format PDF, misalnya, dapat ditampilkan melalui proyektor sehingga satu bahan bacaan dapat dibaca bersama oleh seluruh siswa tanpa harus menyediakan satu buku fisik untuk setiap anak.

Komunitas Read Aloud Malang Raya menegaskan bahwa tujuan utama pemanfaatan buku digital bukan sekadar membuat anak menggunakan teknologi. Lebih jauh, teknologi diharapkan menjadi sarana untuk menumbuhkan kecintaan terhadap membaca.

Orang tua pun memiliki peran besar dalam proses tersebut. Kebiasaan membaca akan lebih mudah tumbuh ketika anak melihat orang tua ikut membaca, berdiskusi tentang buku, dan menjadikan literasi sebagai bagian dari kehidupan keluarga sehari-hari.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....