Buku Digital Bisa Jadi Alternatif Screen Time Anak
- 09 Sep 2026 10:29 WIB
- Malang
RRI.CO.ID, Malang - Penggunaan gawai pada anak tidak selalu harus identik dengan video pendek, permainan, atau media sosial. Orang tua dapat mengarahkan waktu penggunaan layar menjadi aktivitas yang lebih bermanfaat melalui buku digital yang sesuai usia.
Anggota Komunitas Read Aloud Malang Raya, Nabila dan Andina, mengatakan buku digital dapat menjadi salah satu alternatif kegiatan anak ketika menggunakan gawai. Namun, penggunaannya tetap perlu disesuaikan dengan usia anak dan dibatasi agar tidak menggantikan aktivitas penting lainnya.
“Walaupun itu bukan melihat video pendek dan kita membaca, namun kita tetap perlu batasi,” ujar Andina, Selasa (8/9/2026).
Menurut Nabila, orang tua dapat mengenalkan buku digital secara bertahap. Misalnya, anak membaca satu buku terlebih dahulu, kemudian kembali melakukan aktivitas lain sebelum melanjutkan kegiatan membaca berikutnya.
Pengalaman di keluarga narasumber menunjukkan buku digital dapat dimanfaatkan pada situasi tertentu. Anak dapat membaca ketika menjelang tidur, saat menunggu makanan di restoran, maupun ketika melakukan perjalanan sehingga waktu menunggu tidak selalu diisi dengan menonton video.
Buku digital juga memiliki fitur yang dapat membuat aktivitas membaca lebih menarik. Beberapa aplikasi menyediakan ilustrasi pendukung, suara, hingga fitur interaktif yang memungkinkan anak berinteraksi dengan elemen tertentu di dalam cerita.
Fitur audiobook atau Read to Me juga menjadi salah satu keunggulan. Anak yang belum mampu membaca secara mandiri tetap dapat menikmati cerita melalui suara, sementara orang tua masih dapat mendengarkan dan mengetahui bahan bacaan yang sedang diakses anak.
Meski demikian, pendampingan orang tua tetap menjadi bagian penting. Orang tua perlu memastikan anak tidak berpindah ke konten lain, terutama ketika aplikasi memiliki tombol, tautan, iklan, atau fitur tambahan yang dapat membawa anak keluar dari bahan bacaan.
“Jadi anak itu diberikan pengertian bahwa kalau kita menggunakan gawai itu harus ada tanggung jawabnya,” ungkap Nabila.
Pendampingan juga dapat dilakukan melalui kesepakatan. Untuk anak yang sudah lebih besar dan memahami tanggung jawab, orang tua dapat menjelaskan fitur aplikasi, menentukan batasan penggunaan, serta mendiskusikan apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan ketika menggunakan gawai.
“Pentingnya juga pada saat anak itu membaca buku menggunakan buku digital harus ada pendampingan orang tua sehingga tetap anak itu ada batasannya,” ucapnya.
Pendampingan tidak harus selalu dilakukan dengan duduk di samping anak. Ketika anak sudah mampu membaca secara mandiri, orang tua dapat mengetahui tingkat pemahamannya melalui percakapan setelah buku selesai dibaca.
Cara tersebut sekaligus dapat membangun bonding antara orang tua dan anak. Buku tidak hanya menjadi sumber informasi, tetapi juga menjadi bahan percakapan untuk memperkuat komunikasi di dalam keluarga.
Komunitas Read Aloud Malang Raya mengingatkan bahwa penggunaan teknologi sebaiknya diarahkan untuk membangun kebiasaan positif. Orang tua juga perlu menjadi contoh karena anak akan lebih mudah menumbuhkan kecintaan terhadap membaca apabila melihat ayah dan ibunya turut membaca.
Dengan demikian, buku digital bukan sekadar pengganti buku cetak, tetapi dapat menjadi sarana memperkenalkan literasi di tengah perkembangan teknologi. Kuncinya adalah memilih aplikasi yang tepat, membatasi penggunaan gawai, serta menghadirkan pendampingan dan keteladanan orang tua.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....