UM Kembangkan Buku AR untuk Kenalkan Fauna Terancam Punah

  • 21 Sep 2026 09:06 WIB
  •  Malang
RRI.CO.ID, Malang - Universitas Negeri Malang (UM) mengembangkan buku cerita berbasis Augmented Reality (AR) untuk mengenalkan kekayaan fauna Indonesia sekaligus menumbuhkan kesadaran konservasi pada anak usia sekolah dasar.

Buku berjudul “Tigra dan Mata Air Terakhir”tersebut memadukan cerita, ilustrasi, animasi tiga dimensi (3D), dan suara. Pembaca dapat memindai halaman tertentu menggunakan perangkat yang mendukung AR untuk melihat karakter atau objek dalam cerita dalam bentuk animasi 3D.

Ketua tim peneliti UM, Umi Fitriyati mengatakan, pengembangan media tersebut berangkat dari kebutuhan menyampaikan isu lingkungan dengan cara yang lebih dekat dengan karakteristik anak.

“Kami ingin menghadirkan isu konservasi dan perubahan lingkungan melalui media yang tidak hanya memberikan informasi, tetapi juga mengajak anak mengalami cerita dan berinteraksi dengan konten yang dipelajarinya,” kata Umi, Senin (21/9/2026).

Tigra dan Mata Air Terakhir ditujukan bagi anak usia 6 hingga 12 tahun. Cerita berpusat pada Tigra, anak harimau Sumatra yang tinggal di Rimba Zamrud, habitat berbagai fauna Indonesia.

Melalui perjalanan Tigra, anak diperkenalkan pada satwa Indonesia, karakteristik habitat, serta berbagai persoalan lingkungan yang dapat mengancam keberlangsungan hidup satwa. Pesan konservasi disampaikan melalui alur cerita agar persoalan lingkungan yang kompleks lebih mudah dipahami anak.

Menurut Umi, penggunaan satwa sebagai tokoh utama juga ditujukan untuk membangun kedekatan emosional anak dengan fauna Indonesia.

“Ketika persoalan lingkungan disampaikan melalui sebuah cerita, anak dapat melihat bahwa setiap perubahan yang terjadi pada lingkungan memiliki dampak terhadap kehidupan makhluk di dalamnya. Harapannya, anak tidak hanya mengenal satwa, tetapi juga tumbuh rasa peduli untuk menjaga habitat dan lingkungannya,” ujarnya.

Teknologi AR dalam buku tersebut berfungsi sebagai pengayaan pengalaman membaca, bukan menggantikan buku fisik. Setelah membaca cerita dan ilustrasi, anak dapat mengakses konten digital berupa animasi 3D dan suara melalui halaman yang memiliki penanda AR.

Pengembangan buku ini merupakan bagian dari penelitian bertajuk “Inovasi Pembelajaran Edu-Short Movie Berbasis Socio-Scientific Issue (SSI) Storyline sebagai Media Kampanye dan Peningkatan Kesadaran Climate Change dalam Pembelajaran Berbasis Kehidupan”.

Penelitian tersebut diketuai Umi Fitriyati dengan anggota Agung Wibowo, M.Pd., Bagus Priambodo, S.Si., M.Si., M.Sc., Ph.D., Zahra Firdaus, M.Pd., Devi Mariya Sulfa, M.Pd., dan Claresia Tsany Kusmayadi, M.Pd.

Pendekatan Socio-Scientific Issue digunakan untuk mengaitkan persoalan sains dengan kehidupan sehari-hari. Dalam buku tersebut, isu seperti perubahan habitat, ancaman terhadap fauna, kerusakan lingkungan, dan perubahan iklim dikemas melalui cerita yang dekat dengan pengalaman anak.

“Pembelajaran sains akan menjadi lebih bermakna ketika anak dapat menghubungkan apa yang dipelajari dengan kehidupan di sekitarnya. Karena itu, kami mencoba mengemas isu yang cukup kompleks seperti perubahan lingkungan dan konservasi fauna ke dalam cerita yang dapat mereka ikuti, pahami, dan diskusikan,” tutur Umi.

Selain menjadi bahan bacaan, buku tersebut dapat digunakan sebagai media pendamping pembelajaran di sekolah dasar. Guru dan orang tua dapat mengembangkan aktivitas lanjutan, seperti mengajak anak membahas karakteristik satwa, habitat, ancaman terhadap fauna, hingga tindakan sederhana untuk menjaga lingkungan.

Tim peneliti juga membuka peluang pengembangan buku dengan menambah jenis fauna, variasi habitat, serta konten AR. Pengujian berikutnya dapat mencakup respons siswa, kemudahan penggunaan, ketertarikan membaca, dan pemahaman terhadap isu konservasi.

Umi menegaskan, teknologi dalam pengembangan media tersebut bukan menjadi tujuan utama, melainkan sarana untuk membuat pembelajaran lebih dekat dengan dunia anak.

“Teknologi bagi kami bukan tujuan akhir. Yang paling penting adalah bagaimana teknologi tersebut dapat membantu anak belajar dengan cara yang lebih bermakna, mengenal kekayaan fauna Indonesia, memahami tantangan yang dihadapi satwa dan lingkungannya, serta mulai membangun kepedulian sejak dini,” pungkasnya.
google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....