Mahasiswa UM Ciptakan Smart Water Guard, Solusi Tagihan PDAM yang Membengkak

  • 31 Jul 2026 12:17 WIB
  •  Malang

RRI.CO.ID, Malang: Keluhan warga soal tagihan PDAM yang tiba-tiba membengkak tanpa diketahui penyebabnya mendorong mahasiswa UM Belajar Bersama Masyarakat di Desa Sumberpasir menciptakan sebuah inovasi bernama Smart Water Guard. Alat ini dirancang untuk memantau debit air sekaligus mendeteksi potensi kebocoran secara real-time.

Ketua pelaksana kegiatan UM BBM, Ahmad Irhamul Fa’izin menjelaskan bahwa ide pembuatan alat ini muncul setelah banyak warga di Dusun Krajan, Desa Sumberpasir, mengeluhkan tagihan PDAM yang membengkak tanpa mengetahui apakah penyebabnya kebocoran pipa atau bukan.

"Kami berinovasi untuk membuat sebuah alat yang bisa mendeteksi debit air dan kebocoran," ujarnya kepada RRI, Jumat (31/7/2026).

Proyek ini mulai dikembangkan sejak 15 Juni 2026, bertepatan dengan dimulainya kegiatan UM Belajar Bersama Masyarakat di dusun tersebut. Secara teknis, alat ini menggunakan water flow sensor untuk mendeteksi debit air yang mengalir, kemudian data tersebut dikonversi oleh mikrokontroler ESP32 menjadi angka yang ditampilkan pada aplikasi pendamping bernama WaterGuard. Aplikasi ini menampilkan penggunaan air harian, penggunaan bulanan, hingga riwayat notifikasi tujuh hari terakhir. Untuk mendeteksi kebocoran, alat ini memakai algoritma "jam tidur", yakni rentang waktu yang ditentukan pengguna sebagai jam istirahat. Jika dalam rentang waktu tersebut terdeteksi aliran air non-stop selama 30 menit, sistem akan otomatis mengirim notifikasi ke ponsel pengguna melalui layanan FCM (Firebase Cloud Messaging) dan OneSignal.

Proses pengembangan alat ini berlangsung sekitar dua minggu, mulai dari pemilihan mikrokontroler hingga kalibrasi sensor. Tim mengaku tantangan terbesar terletak pada karakteristik sensor yang berbeda-beda di setiap unit, sehingga proses kalibrasi harus dilakukan secara terpisah untuk tiap alat, memakan waktu sekitar dua hingga empat hari per unit.

Soal akurasi, tim menyesuaikan perhitungan biaya dalam program mikrokontroler dengan tarif PDAM Kanjuruhan Kabupaten Malang, yang bervariasi antara Rp4.000 hingga Rp5.000 per meter kubik tergantung golongan pelanggan yang juga dapat diatur secara mandiri oleh pengguna. Validasi keakuratan estimasi biaya ini turut bergantung pada presisi kalibrasi masing-masing sensor.

Dalam proses pemasangannya, tim menetapkan sejumlah kriteria, terutama instalasi pipa yang berada di luar atau tidak tertanam di dalam tembok, serta perizinan dari pemilik rumah. Sebagai bentuk pendampingan, tim menyediakan aplikasi pemantauan yang terhubung ke jaringan WiFi pribadi warga, lengkap dengan kontak person apabila terjadi kendala di kemudian hari. Manfaat alat ini turut dirasakan langsung oleh warga. Bapak Ulum, salah satu warga yang rumahnya dipasangi Smart Water Guard, mengaku sebelumnya sempat mengalami kebocoran pipa yang tertanam di dalam tembok dan baru diketahui belakangan.

"Dampaknya, tagihan saya yang biasanya standar sekitar 60-67 ribu, sempat naik sampai paling maksimal 90 ribu karena kebocoran itu," ujarnya.

Setelah alat terpasang, ia mengaku dapat mendeteksi kebocoran lebih dini lewat notifikasi aplikasi, meskipun perbaikannya sendiri masih dilakukan secara manual.

"Untuk biaya bulanan, sekarang sudah kembali normal lagi, sekitar 60-70 ribu seperti biasanya," tambahnya. Ia berharap aplikasi Water Guard dapat terus dikembangkan dan suatu saat dapat diproduksi secara massal agar lebih banyak warga dapat memanfaatkannya.

"Saya pikir ini luar biasa, satu terobosan luar biasa, walaupun masih membutuhkan penyempurnaan," pungkasnya.

Kesan serupa disampaikan Bapak Zainul, warga lain yang rumahnya juga dipasangi Smart Water Guard. Ia mengaku selama ini tidak pernah mengalami tagihan PDAM membengkak karena terbiasa memantau pemakaian air secara manual dari struk tagihan tiap bulan.

Setelah alat terpasang, pemantauan menjadi lebih mudah. "Saya pantau setiap pagi, setiap jam 6 itu sudah ada datanya, mulai start awal sampai akhir. Kebetulan kemarin saya lihat habisnya itu sekitar Rp17.500 per hari," ujarnya.

Ia menambahkan, satu-satunya kendala yang dirasakan adalah belum adanya fitur reset otomatis di awal bulan agar perhitungan pemakaian sinkron dengan siklus tagihan PDAM. Soal harapan ke depan, Bapak Zainul berpesan agar alat ini bisa lebih awet mengingat keterbatasan dukungan teknis pascaprogram KKN berakhir.

"Semoga alatnya awet dan bertahan lama sampai satu tahun, tidak ada kerusakan," pungkasnya.

Ke depan, tim berharap Smart Water Guard dapat diterapkan lebih luas, mulai dari skala RT hingga kelurahan, bahkan menjadi solusi yang bisa diadopsi masyarakat secara mandiri di berbagai daerah.

"Kedepannya, diharapkan meteran digital yang kami buat ini dapat bermanfaat bagi masyarakat" pungkasnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....