UB Dorong Isu Krisis Air Jadi Gerakan Pendidikan dan Kolaborasi Global

  • 11 Mei 2026 11:28 WIB
  •  Malang
RRI.CO.ID, Malang - Universitas Brawijaya (UB) mendorong isu krisis air menjadi bagian dari gerakan pendidikan dan kolaborasi global. Hal ini diungkapkan Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Kerjasama, dan Internasionalisasi Universitas Brawijaya (UB), Prof. Andi Kurniawan dalam peringatan World Water Day 2026 yang dirangkaikan dalam “Minggu Hemat Air Sedunia” pada Senin (11/5/2026).

Menurut Prof. Andi, persoalan air kini bukan lagi sekadar isu lingkungan, melainkan telah menjadi tantangan kemanusiaan global. Berdasarkan data internasional, lebih dari dua miliar penduduk dunia masih belum memiliki akses air bersih yang memadai.

“Kalau hari ini kita masih bisa minum air bersih dengan mudah, berarti kita lebih beruntung. Karena satu dari lima orang di dunia belum memiliki akses air yang layak,” ujarnya di hadapan mahasiswa.

Ia menambahkan, hampir seluruh ekosistem perairan dunia kini mengalami tekanan serius. Kondisi tersebut membuat isu air harus dipandang sebagai persoalan lintas sektor yang membutuhkan perhatian bersama.

Terdapat tiga faktor yang menyebabkan persoalan lingkungan, khususnya air, kerap terlambat ditangani. Pertama, kerusakan lingkungan bersifat lambat sehingga dampaknya sering tidak langsung terlihat. Kedua, dampaknya baru terasa ketika kondisi sudah parah dan membutuhkan biaya besar untuk pemulihan.

Ketiga, dampak kerusakan lingkungan umumnya paling dirasakan masyarakat rentan, sementara pihak yang memiliki akses ekonomi lebih besar justru menjadi penyumbang kerusakan terbesar.

“Banyak masyarakat yang harus berjalan berkilo-kilometer hanya untuk mendapatkan air bersih. Waktu yang seharusnya digunakan untuk belajar justru habis demi memenuhi kebutuhan dasar,” katanya.

Dalam rangkaian kerja sama dengan UNESCO dan Komite Nasional Indonesia untuk UNESCO, UB dipercaya menerjemahkan laporan PBB tentang perkembangan sumber daya air dunia. Hasil terjemahan tersebut telah dikirim ke Paris dan diluncurkan bersamaan dengan versi bahasa resmi UNESCO lainnya pada 19 Maret 2026.

“Kami sangat bangga karena UB dipercaya mewakili Indonesia untuk menerjemahkan laporan ini. Prosesnya sangat ketat karena tidak boleh ada satu bagian pun yang meleset dari makna aslinya,” jelasnya.



Lebih lanjut, UB juga menjadikan isu pengelolaan air berkelanjutan sebagai salah satu program prioritas universitas melalui tema Sustainable Eco-Hydrological Approach for Coastal Resources Management.

“Tema tersebut akan diintegrasikan dalam penguatan kurikulum, riset, hingga program pengabdian masyarakat,” ujar Prof. Andi.

UB menilai kesadaran lingkungan kini harus menjadi bagian penting dari civic literacy atau literasi kewargaan modern. Karena itu, berbagai persoalan lingkungan, termasuk krisis air, mulai dimasukkan dalam pendekatan pembelajaran berbasis proyek dan living laboratory.

“Kami ingin isu lingkungan tidak hanya menjadi diskusi sesaat, tetapi terintegrasi dalam kurikulum dan menjadi bagian dari solusi nyata yang dibangun kampus,” kata guru besar bidang ilmu ekologi mikroba perairan UB ini.

Andi juga menyebut bahwa program ini menjadi implementasi konsep “kampus berdampak” yang tengah dikembangkan UB, yakni menghadirkan ilmu pengetahuan untuk menjawab persoalan riil di masyarakat.
⁠⁠⁠⁠⁠⁠⁠
Salah satunya melalui penguatan kolaborasi dengan pemerintah daerah dan berbagai pihak dalam upaya pelestarian sumber mata air di Malang Raya.

“UB saat ini telah menjalin kerja sama dengan Pemerintah Kota Batu, Pemerintah Kota Malang, serta sejumlah mitra lain untuk mendukung program konservasi air melalui riset, pengabdian masyarakat, dan program tanggung jawab sosial perusahaan,” tutupnya.
google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....