UB Perkuat Jejaring UNESCO lewat Forum Internasional Isu Krisis Air
- 11 Mei 2026 11:11 WIB
- Malang
RRI.CO.ID, Malang - Universitas Brawijaya (UB) memperkuat jejaring internasional bersama UNESCO dan berbagai mitra global melalui penyelenggaraan Kuliah Tamu Internasional bertajuk Water Future for All 2026. Forum yang digelar dalam rangka World Water Week 2026 itu menjadi langkah strategis UB dalam membangun kolaborasi global terkait isu keberlanjutan air dan lingkungan.
Kegiatan yang digelar pada Senin 11 Mei 2026 di Gedung Pandhita Majapahit UB tersebut mengangkat subtema “Alirkan Keadilan: Bijak Gunakan Air, Beri Ruang untuk Sesama”. Forum ini tidak hanya menjadi ruang diskusi akademik, tetapi juga upaya memperkuat posisi UB dalam jejaring UNESCO Chair yang fokus pada ekohidrologi dan keamanan air.
Wakil Ketua Pelaksana, Abdul Aziz Jaziri, S.Pi., M.Sc., Ph.D. mengatakan, persoalan air kini telah berkembang menjadi tantangan global yang membutuhkan kerja sama lintas negara dan lintas institusi.
“Isu air bukan lagi persoalan lokal, tetapi persoalan global yang membutuhkan kolaborasi internasional. Karena itu UB ingin menghadirkan forum yang tidak hanya membahas persoalan secara akademik, tetapi juga membangun aksi dan jejaring nyata,” katanya.
Menurutnya, penguatan networking internasional menjadi salah satu tujuan utama kegiatan tersebut. UB saat ini tengah mendorong pengembangan UNESCO Chair bertema Integrated Ecohydrology and Water Security in Coastal Areas (SEACoM) sehingga forum ini diharapkan menjadi ruang strategis untuk memperluas kerja sama global.
“Kami ingin memperkuat networking dengan berbagai UNESCO Chair dan mitra internasional agar berkembang menjadi kolaborasi riset, publikasi, pertukaran akademik, hingga pengembangan program keberlanjutan bersama,” ujarnya.
Kuliah tamu internasional ini menghadirkan sejumlah pembicara nasional dan internasional yang memiliki perhatian terhadap isu pengelolaan air dan keberlanjutan lingkungan. Salah satunya Prof. Ananto Kusuma Seta, Ph.D. dari Komite Nasional Indonesia untuk UNESCO bertemakan “Water for All People: Science, Policy, and Inclusive Action”.
Selain itu, Dr. Engin Koncagul dari UNESCO Regional Office Jakarta juga hadir untuk memaparkan perspektif global mengenai pengelolaan air berkelanjutan dan pentingnya kerja sama internasional dalam menghadapi krisis air dunia.
Tak hanya forum akademik, UB juga menyiapkan berbagai kegiatan pendukung seperti lomba esai dan video kampanye bertema konservasi air dan keberlanjutan lingkungan. Program tersebut diharapkan mampu memperluas edukasi publik sekaligus melibatkan generasi muda dalam kampanye penyelamatan sumber daya air.
“Kami ingin mahasiswa tidak hanya hadir sebagai peserta, tetapi juga aktif menyuarakan kepedulian melalui karya, gagasan, dan aksi nyata. Karena keberlanjutan air adalah tanggung jawab bersama,” jelas Abdul Aziz.
Sebagai bagian dari kontribusi akademik, UB juga tengah menyiapkan peluncuran buku translasi bertema air dan keberlanjutan lingkungan yang diharapkan menjadi referensi ilmiah sekaligus media edukasi masyarakat.
Kegiatan yang digelar pada Senin 11 Mei 2026 di Gedung Pandhita Majapahit UB tersebut mengangkat subtema “Alirkan Keadilan: Bijak Gunakan Air, Beri Ruang untuk Sesama”. Forum ini tidak hanya menjadi ruang diskusi akademik, tetapi juga upaya memperkuat posisi UB dalam jejaring UNESCO Chair yang fokus pada ekohidrologi dan keamanan air.
Wakil Ketua Pelaksana, Abdul Aziz Jaziri, S.Pi., M.Sc., Ph.D. mengatakan, persoalan air kini telah berkembang menjadi tantangan global yang membutuhkan kerja sama lintas negara dan lintas institusi.
“Isu air bukan lagi persoalan lokal, tetapi persoalan global yang membutuhkan kolaborasi internasional. Karena itu UB ingin menghadirkan forum yang tidak hanya membahas persoalan secara akademik, tetapi juga membangun aksi dan jejaring nyata,” katanya.
Menurutnya, penguatan networking internasional menjadi salah satu tujuan utama kegiatan tersebut. UB saat ini tengah mendorong pengembangan UNESCO Chair bertema Integrated Ecohydrology and Water Security in Coastal Areas (SEACoM) sehingga forum ini diharapkan menjadi ruang strategis untuk memperluas kerja sama global.
“Kami ingin memperkuat networking dengan berbagai UNESCO Chair dan mitra internasional agar berkembang menjadi kolaborasi riset, publikasi, pertukaran akademik, hingga pengembangan program keberlanjutan bersama,” ujarnya.
Kuliah tamu internasional ini menghadirkan sejumlah pembicara nasional dan internasional yang memiliki perhatian terhadap isu pengelolaan air dan keberlanjutan lingkungan. Salah satunya Prof. Ananto Kusuma Seta, Ph.D. dari Komite Nasional Indonesia untuk UNESCO bertemakan “Water for All People: Science, Policy, and Inclusive Action”.
Selain itu, Dr. Engin Koncagul dari UNESCO Regional Office Jakarta juga hadir untuk memaparkan perspektif global mengenai pengelolaan air berkelanjutan dan pentingnya kerja sama internasional dalam menghadapi krisis air dunia.
Tak hanya forum akademik, UB juga menyiapkan berbagai kegiatan pendukung seperti lomba esai dan video kampanye bertema konservasi air dan keberlanjutan lingkungan. Program tersebut diharapkan mampu memperluas edukasi publik sekaligus melibatkan generasi muda dalam kampanye penyelamatan sumber daya air.
“Kami ingin mahasiswa tidak hanya hadir sebagai peserta, tetapi juga aktif menyuarakan kepedulian melalui karya, gagasan, dan aksi nyata. Karena keberlanjutan air adalah tanggung jawab bersama,” jelas Abdul Aziz.
Sebagai bagian dari kontribusi akademik, UB juga tengah menyiapkan peluncuran buku translasi bertema air dan keberlanjutan lingkungan yang diharapkan menjadi referensi ilmiah sekaligus media edukasi masyarakat.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....