Perempuan Kian Berperan Strategis dalam Industri Indonesia
- 21 Jun 2026 07:07 WIB
- Malang
RRI.CO.ID, Malang - Peluang perempuan untuk berkontribusi dalam industri Indonesia semakin terbuka seiring berkembangnya akses pendidikan, teknologi, dan dunia kerja. Tak hanya menjadi tenaga kerja, perempuan kini turut mengambil peran sebagai inovator, pemimpin usaha, hingga penggerak ekonomi yang berkontribusi terhadap pertumbuhan nasional.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan tingkat partisipasi angkatan kerja perempuan pada Februari 2024 mencapai 55,41 persen. Angka tersebut meningkat dibandingkan tahun sebelumnya dan mencerminkan semakin besarnya keterlibatan perempuan dalam berbagai sektor ekonomi, mulai dari industri manufaktur, ekonomi kreatif, hingga usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Dosen dan peneliti sosiologi gender Universitas Negeri Malang (UM), Dr. Anggaunitakiranantika, S.Sos., M.Sosio., menilai peningkatan partisipasi perempuan tidak lepas dari modernisasi dan meningkatnya kesadaran akan pentingnya kemandirian ekonomi.
“Dengan adanya modernisasi, keterlibatan dan partisipasi perempuan dalam angkatan kerja jumlahnya naik. Perempuan melihat bahwa tidak hanya laki-laki yang membutuhkan uang. Perempuan juga mulai menyadari bahwa memiliki penghasilan dari hasil kerja sendiri memberikan kemandirian dan kesempatan untuk mengembangkan karier,” kata Angga, Sabtu (20/6/2026).
Menurutnya, semakin banyak perempuan yang terlibat dalam dunia kerja akan memberikan dampak positif bagi perekonomian keluarga maupun pembangunan nasional. Kehadiran perempuan dalam berbagai sektor industri turut meningkatkan produktivitas, memperluas inovasi, serta menciptakan lingkungan kerja yang lebih inklusif.
“Kontribusi perempuan dalam industri sebenarnya telah berlangsung sejak lama. Sejak masa kolonial, perempuan telah terlibat dalam berbagai sektor manufaktur, seperti industri tekstil dan pengolahan hasil pertanian. Kini, peran tersebut terus berkembang dan semakin terlihat dalam berbagai bidang strategis,” tegasnya.
Data Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak menunjukkan sekitar 64,5 persen pelaku UMKM di Indonesia merupakan perempuan.
Meski demikian, sejumlah tantangan masih perlu diatasi. Kesenjangan upah, rendahnya representasi perempuan pada posisi kepemimpinan, serta stereotip gender masih menjadi hambatan yang dihadapi di berbagai sektor industri.
Karena itu, Dr. Angga menilai upaya mendorong kesetaraan tidak cukup hanya melalui regulasi dan kebijakan formal. Perubahan pola pikir masyarakat juga menjadi faktor penting untuk menciptakan kesempatan yang benar-benar setara.
“Yang harus diperhatikan dari level paling bawah adalah, sudahkah perempuan diberi haknya? Hak dalam pendidikan, kesehatan, dan kesempatan yang sama. Karena dari pemenuhan hak inilah ketidakadilan dan ketimpangan bisa dikurangi,” kata dia.
Ia menambahkan bahwa setiap individu memiliki hak yang sama untuk mengembangkan potensi diri tanpa dibatasi konstruksi sosial yang melekat pada jenis kelamin. Menurutnya, industri yang maju adalah industri yang memberikan kesempatan berdasarkan kompetensi dan kapasitas, bukan gender.
Pandangan tersebut sejalan dengan tujuan Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 5 tentang Kesetaraan Gender dan SDG 8 tentang Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi. Meningkatnya partisipasi perempuan di sektor industri dinilai menjadi salah satu kunci dalam membangun ekonomi yang inklusif, berkelanjutan, dan berdaya saing.
Kepada generasi muda, terutama mahasiswa, Dr. Angga berpesan agar terus meningkatkan kapasitas diri dan berani mengambil peran dalam berbagai sektor strategis.
“Tetap belajar, tetap bergerak, dan jangan berhenti untuk berusaha. Karena kalau kita tidak melakukan pembuktian, masyarakat itu akan terus menjadi stagnan. Padahal tidak ada masyarakat yang benar-benar diam, semuanya terus berubah,” tutupnya.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan tingkat partisipasi angkatan kerja perempuan pada Februari 2024 mencapai 55,41 persen. Angka tersebut meningkat dibandingkan tahun sebelumnya dan mencerminkan semakin besarnya keterlibatan perempuan dalam berbagai sektor ekonomi, mulai dari industri manufaktur, ekonomi kreatif, hingga usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Dosen dan peneliti sosiologi gender Universitas Negeri Malang (UM), Dr. Anggaunitakiranantika, S.Sos., M.Sosio., menilai peningkatan partisipasi perempuan tidak lepas dari modernisasi dan meningkatnya kesadaran akan pentingnya kemandirian ekonomi.
“Dengan adanya modernisasi, keterlibatan dan partisipasi perempuan dalam angkatan kerja jumlahnya naik. Perempuan melihat bahwa tidak hanya laki-laki yang membutuhkan uang. Perempuan juga mulai menyadari bahwa memiliki penghasilan dari hasil kerja sendiri memberikan kemandirian dan kesempatan untuk mengembangkan karier,” kata Angga, Sabtu (20/6/2026).
Menurutnya, semakin banyak perempuan yang terlibat dalam dunia kerja akan memberikan dampak positif bagi perekonomian keluarga maupun pembangunan nasional. Kehadiran perempuan dalam berbagai sektor industri turut meningkatkan produktivitas, memperluas inovasi, serta menciptakan lingkungan kerja yang lebih inklusif.
“Kontribusi perempuan dalam industri sebenarnya telah berlangsung sejak lama. Sejak masa kolonial, perempuan telah terlibat dalam berbagai sektor manufaktur, seperti industri tekstil dan pengolahan hasil pertanian. Kini, peran tersebut terus berkembang dan semakin terlihat dalam berbagai bidang strategis,” tegasnya.
Data Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak menunjukkan sekitar 64,5 persen pelaku UMKM di Indonesia merupakan perempuan.
“Angka ini menegaskan bahwa perempuan menjadi salah satu kekuatan utama dalam menopang ekonomi kerakyatan dan menciptakan lapangan kerja,” tuturnya.
Memasuki era Revolusi Industri 4.0, peluang perempuan semakin luas berkat perkembangan teknologi digital. Berbagai profesi yang sebelumnya didominasi laki-laki kini semakin terbuka bagi perempuan, termasuk di bidang science, technology, engineering, and mathematics (STEM).
“Dengan adanya pendidikan yang semakin berkualitas dan akses yang semakin baik untuk perempuan, maka akan semakin memungkinkan perempuan memiliki partisipasi yang lebih besar di dalam sektor industri, baik secara nasional maupun global,” jelas Angga.
Memasuki era Revolusi Industri 4.0, peluang perempuan semakin luas berkat perkembangan teknologi digital. Berbagai profesi yang sebelumnya didominasi laki-laki kini semakin terbuka bagi perempuan, termasuk di bidang science, technology, engineering, and mathematics (STEM).
“Dengan adanya pendidikan yang semakin berkualitas dan akses yang semakin baik untuk perempuan, maka akan semakin memungkinkan perempuan memiliki partisipasi yang lebih besar di dalam sektor industri, baik secara nasional maupun global,” jelas Angga.
Meski demikian, sejumlah tantangan masih perlu diatasi. Kesenjangan upah, rendahnya representasi perempuan pada posisi kepemimpinan, serta stereotip gender masih menjadi hambatan yang dihadapi di berbagai sektor industri.
Karena itu, Dr. Angga menilai upaya mendorong kesetaraan tidak cukup hanya melalui regulasi dan kebijakan formal. Perubahan pola pikir masyarakat juga menjadi faktor penting untuk menciptakan kesempatan yang benar-benar setara.
“Yang harus diperhatikan dari level paling bawah adalah, sudahkah perempuan diberi haknya? Hak dalam pendidikan, kesehatan, dan kesempatan yang sama. Karena dari pemenuhan hak inilah ketidakadilan dan ketimpangan bisa dikurangi,” kata dia.
Ia menambahkan bahwa setiap individu memiliki hak yang sama untuk mengembangkan potensi diri tanpa dibatasi konstruksi sosial yang melekat pada jenis kelamin. Menurutnya, industri yang maju adalah industri yang memberikan kesempatan berdasarkan kompetensi dan kapasitas, bukan gender.
Pandangan tersebut sejalan dengan tujuan Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 5 tentang Kesetaraan Gender dan SDG 8 tentang Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi. Meningkatnya partisipasi perempuan di sektor industri dinilai menjadi salah satu kunci dalam membangun ekonomi yang inklusif, berkelanjutan, dan berdaya saing.
Kepada generasi muda, terutama mahasiswa, Dr. Angga berpesan agar terus meningkatkan kapasitas diri dan berani mengambil peran dalam berbagai sektor strategis.
“Tetap belajar, tetap bergerak, dan jangan berhenti untuk berusaha. Karena kalau kita tidak melakukan pembuktian, masyarakat itu akan terus menjadi stagnan. Padahal tidak ada masyarakat yang benar-benar diam, semuanya terus berubah,” tutupnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....