Read Aloud Bangun Empati, Bukan Sekadar Minat Baca
- 16 Jul 2026 09:25 WIB
- Malang
RRI.CO.ID, Malang- Gerakan Read Aloud selama ini kerap dipahami sebagai kegiatan membacakan buku kepada anak untuk menumbuhkan minat membaca. Padahal, manfaat yang dibangun jauh lebih luas daripada sekadar kemampuan mengenal huruf atau mempercepat anak membaca. Melalui kegiatan membaca nyaring, anak maupun orang dewasa dilatih untuk memahami isi bacaan, mengenali sudut pandang orang lain, hingga belajar membaca situasi di lingkungan sekitarnya. Pendekatan inilah yang terus dikembangkan oleh Komunitas Read Aloud Malang Raya dalam membangun budaya literasi yang berdampak pada pembentukan karakter.
Ketua Read Aloud Malang Raya, Kak Novi, menjelaskan bahwa kegiatan read aloud tidak hanya diperuntukkan bagi anak-anak, tetapi juga dapat dilakukan oleh orang dewasa. Menurutnya, membaca nyaring merupakan titik awal untuk menumbuhkan minat baca yang kemudian berkembang menjadi kemampuan memahami informasi dan mengambil sikap yang tepat dalam kehidupan sehari-hari. "Read aloud tidak hanya untuk anak-anak, tetapi juga orang dewasa. Ini menjadi titik awal tumbuhnya minat membaca, kemudian berkembang menjadi kemampuan memahami apa yang dibaca. Pada akhirnya kita tidak hanya belajar membaca buku, tetapi juga belajar membaca situasi di sekitar agar mampu mengambil keputusan yang baik dan tidak merugikan diri sendiri maupun orang lain," ujarnya kepada RRI Malang pada Selasa (14/7/2026).
Kemampuan memahami sudut pandang orang lain, lanjut Novi, menjadi semakin penting di tengah derasnya arus informasi dan media sosial. Ia menilai rendahnya kemampuan membaca secara mendalam membuat banyak orang terburu-buru memberikan respons tanpa benar-benar memahami konteks persoalan. "Yang perlu dilatih sebenarnya adalah kemampuan mendengarkan, membaca, dan memahami lingkungan sekitar. Sekarang banyak orang cepat bosan, fokusnya pendek, sehingga sering kali langsung merespons sebelum benar-benar memahami apa yang sedang terjadi," jelasnya.
Dalam mendampingi berbagai kalangan mulai dari mahasiswa, ibu muda hingga orang tua, Novi juga melihat tantangan besar dalam membangun komunikasi yang santun pada Generasi Alpha. Menurutnya, anak-anak kini lebih banyak berinteraksi melalui ruang digital sehingga orang tua perlu menjelaskan bahwa etika berkomunikasi di media sosial sama pentingnya dengan ketika berbicara secara langsung. "Saya sering mengajak orang tua mengingatkan anak dengan pertanyaan sederhana, 'Kalau komentar itu harus kamu sampaikan langsung di depan orangnya, apakah kamu berani mengatakannya?' Kalau tidak berani, berarti sebaiknya tidak perlu ditulis. Apa yang diketik di media sosial harus sama santunnya dengan apa yang kita ucapkan di dunia nyata," katanya.
| Baca juga: Literasi Digital Rendah Picu Penipuan Online |
Selain membangun kemampuan berkomunikasi, read aloud juga menjadi sarana menanamkan empati melalui cerita. Novi mengatakan waktu pelaksanaannya tidak harus selalu sebelum tidur, melainkan kapan saja saat keluarga memiliki waktu yang santai, meski hanya 10 hingga 15 menit setiap hari. Anak, menurutnya, merupakan peniru yang sangat baik sehingga cerita yang didengar, ilustrasi yang dilihat, serta diskusi setelah membaca akan tersimpan dalam ingatan dan menjadi bekal ketika menghadapi situasi serupa di kehidupan nyata. "Anak-anak adalah copycat. Apa yang mereka dengar dari kita, gambar yang mereka lihat di buku, serta diskusi setelah membaca akan mereka rekam dan suatu saat diterapkan dalam kehidupan nyata. Karena itu, jangan merasa read aloud sebagai beban. Mulailah dulu 10 sampai 15 menit setiap hari dan jadikan sebagai aktivitas yang menyenangkan," tuturnya.
Dampak positif tersebut juga dirasakan oleh banyak keluarga yang mengikuti kegiatan Read Aloud Malang Raya. Novi mengungkapkan sejumlah orang tua melaporkan anak-anak mereka memiliki kosakata yang lebih kaya, lebih cepat memahami instruksi guru di sekolah, hingga tumbuh lebih percaya diri menghadapi berbagai situasi karena telah mengenalnya melalui cerita yang dibacakan. Bahkan, kemampuan membaca yang lebih cepat sering kali muncul sebagai efek samping positif dari kebiasaan membaca nyaring. Bagi Novi, keberhasilan terbesar dari gerakan ini bukan sekadar membuat anak lancar membaca, melainkan membentuk generasi yang mampu berpikir kritis, berempati, serta memahami orang lain sebelum memberikan respons.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....