Gadget Berlebihan Picu Speech Delay, Pendampingan Orang Tua Jadi Solusi
- 09 Jun 2026 15:44 WIB
- Malang
RRI.CO.ID, Malang - Paparan gawai sejak usia dini menjadi salah satu faktor yang berkontribusi terhadap meningkatnya kasus keterlambatan bicara atau speech delay pada anak. Karena itu, orang tua diminta lebih aktif mendampingi anak dan membangun interaksi langsung melalui kegiatan membaca serta berdiskusi.
Hal tersebut disampaikan Kapten Divisi Society Relation Read Aloud Malang Raya, Ulfi Urfilah, dalam Dialog Interaktif Literasi Digital RRI Malang. Berdasarkan pengalamannya, banyak anak yang mengalami keterlambatan bicara karena terlalu sering berinteraksi dengan gawai tanpa pendampingan orang tua.
“Faktor utamanya adalah anak terlalu terbiasa dengan gadget sejak kecil. Mereka lebih banyak menerima informasi secara satu arah sehingga interaksi dan kemampuan berbahasa tidak berkembang secara optimal,” ujarnya, Selasa (9/6/2026).
Ulfi menjelaskan bahwa anak-anak yang lahir pada masa pandemi Covid-19 menjadi salah satu kelompok yang cukup banyak mengalami kondisi tersebut. Kebiasaan menggunakan gawai dalam waktu lama membuat anak lebih pasif dalam berkomunikasi dan kurang mendapatkan stimulasi verbal dari lingkungan sekitarnya.
Untuk mengatasi kondisi tersebut, kegiatan membaca nyaring atau read aloud dapat menjadi salah satu bentuk terapi sederhana yang dapat dilakukan di rumah. Melalui kegiatan ini, anak tidak hanya mendengarkan cerita, tetapi juga diajak berinteraksi dan menjawab pertanyaan yang diberikan orang tua.
“Dokter pun banyak menyarankan anak diajak dibacakan cerita dan diajak berbicara. Tidak hanya mendengarkan, tetapi ada interaksi sehingga kemampuan bicara anak lebih cepat berkembang,” katanya.
Selain membatasi penggunaan gawai, orang tua juga dianjurkan memberi contoh perilaku yang baik. Ulfi mengaku menerapkan kebiasaan mengurangi penggunaan ponsel saat berada di rumah agar anak lebih tertarik melakukan aktivitas lain seperti membaca buku, bermain, atau berolahraga bersama keluarga.
Menurutnya, tidak ada kata terlambat untuk memulai perubahan tersebut. “Kalau anak sudah terpapar gadget, orang tua perlu melakukan terapi gadget secara bertahap. Yang penting bukan langsung melarang, tetapi membangun kembali kedekatan emosional dan interaksi dengan anak,” jelasnya.
Melalui pendekatan tersebut, anak tidak hanya terhindar dari dampak negatif penggunaan gawai berlebihan, tetapi juga memiliki kemampuan berpikir kritis yang menjadi bekal penting dalam menghadapi banjir informasi dan maraknya hoaks di era digital.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....