Metode Read Aloud Dinilai Efektif Bangun Critical Thinking Anak sejak Dini

  • 10 Jun 2026 09:50 WIB
  •  Malang

RRI.CO.ID, Malang - Membacakan buku dengan metode read aloud atau membaca nyaring kepada anak dinilai menjadi salah satu cara efektif untuk menumbuhkan kemampuan berpikir kritis sekaligus membentengi mereka dari paparan hoaks dan informasi menyesatkan di era digital.

Dalam Dialog Interaktif Literasi Digital RRI Malang, Komunitas Read Aloud Malang Raya menjelaskan bahwa kegiatan membaca nyaring bukan sekadar membacakan cerita, tetapi melibatkan interaksi dua arah antara orang tua dan anak. Melalui proses tersebut, anak diajak menganalisis isi cerita dan mengemukakan pendapatnya.

“Read aloud itu bukan hanya membaca. Orang tua bisa bertanya, ‘Menurut adik bagaimana? Setuju tidak dengan tindakan tokoh ini?’ Dari situ anak belajar mengomentari suatu peristiwa dan mulai terbiasa berpikir kritis,” ujar Nana, Kapten Divisi Research and Development Read Aloud Malang Raya, Selasa (9/6/2026).

Menurutnya, kebiasaan berdiskusi saat membaca cerita akan melatih anak untuk memecahkan masalah, menarik kesimpulan, dan melihat berbagai sudut pandang. Kemampuan tersebut menjadi modal penting ketika anak berhadapan dengan informasi yang beredar di internet maupun media sosial.

Kapten Divisi Society Relation Read Aloud Malang Raya, Ulfi Urfilah, menambahkan bahwa metode ini bahkan bisa dimulai sejak masa kehamilan. Selain memperkuat ikatan emosional antara ibu dan anak, kebiasaan mendengarkan cerita sejak dini juga berdampak positif terhadap perkembangan bahasa, empati, dan kemampuan memahami informasi.

“Anak yang terbiasa dibacakan cerita tidak hanya berkembang kemampuan literasinya, tetapi juga empatinya. Mereka lebih mudah memahami makna cerita dan belajar menyampaikan pendapat,” jelasnya.

Ia mencontohkan, anak-anak yang rutin mengikuti aktivitas membaca nyaring cenderung lebih cepat belajar membaca, menulis, hingga memahami konsep numerasi. Kebiasaan berpikir dan bertanya yang terbentuk sejak kecil membuat mereka tidak mudah menerima informasi mentah-mentah tanpa melakukan penalaran terlebih dahulu.

“Tujuan akhirnya adalah anak memiliki tombol berpikir sebelum percaya terhadap suatu informasi. Jadi ketika menemukan berita atau informasi baru, mereka tidak langsung menerima begitu saja,” tegas Ulfi.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....