'Jeda Digital', Cara Sederhana Cegah Jadi Korban Penipuan Siber
- 09 Jul 2026 13:15 WIB
- Malang
RRI.CO.ID, Malang – Di tengah meningkatnya ancaman penipuan digital, Pengelola Nama Domain Internet Indonesia (PANDI) mengajak masyarakat membiasakan melakukan "jeda digital" sebelum mengklik tautan yang diterima melalui berbagai platform digital.
Kebiasaan sederhana tersebut dapat menjadi benteng pertama untuk menghindari berbagai modus kejahatan siber yang semakin canggih.
"Ketika menerima sebuah tautan, berhentilah sejenak. Lihat siapa pengirimnya, apa tujuannya, lalu pastikan apakah benar-benar aman. Cukup jeda beberapa detik saja sebelum mengklik," tutur Ketua Dewan Pengurus PANDI, Ir. Isnawan, Rabu, 8 Juli 2026.
Menurutnya, pelaku kejahatan siber sengaja memanfaatkan rasa penasaran, kepanikan, hingga keinginan memperoleh hadiah agar korban segera mengklik tautan tanpa melakukan pemeriksaan terlebih dahulu.
Ia mencontohkan berbagai modus yang sering ditemui, mulai dari undangan pernikahan digital, pemberitahuan hadiah, promo diskon besar, hingga permintaan pembaruan akun perbankan yang sebenarnya merupakan jebakan phishing.
Selain menerapkan jeda digital, Isnawan juga mendorong masyarakat mulai menerapkan konsep digital minimalis, yakni mengurangi paparan terhadap gawai agar tidak mudah terdorong membuka tautan atau informasi yang tidak diperlukan.
"Digital minimalis bukan berarti meninggalkan teknologi, tetapi mengurangi paparan terhadap gadget sehingga kita tidak mudah terjebak berbagai modus penipuan," katanya.
Ia juga mengingatkan pentingnya pendampingan bagi anak-anak maupun lansia yang mulai menggunakan perangkat digital. Orang tua diminta rutin memeriksa aplikasi yang terpasang pada gawai anak serta membatasi waktu penggunaan gadget.
Sementara bagi lansia, anggota keluarga diharapkan memberikan pendampingan saat menggunakan layanan digital, terutama yang berkaitan dengan transaksi keuangan.
Isnawan mencontohkan sistem layanan perbankan digital pada dasarnya telah memiliki perlindungan yang kuat. Namun, kebocoran data umumnya terjadi karena pengguna secara sukarela memberikan informasi penting seperti username, password, maupun kode OTP kepada pelaku.
"Jangan asal klik. Biasakan jeda digital sebelum mengambil keputusan. Cara sederhana ini bisa mencegah kita menjadi korban phishing maupun pencurian data," pungkasnya.
Ia berharap edukasi keamanan digital terus diperluas melalui kolaborasi pemerintah, media, komunitas, dan masyarakat agar budaya waspada di ruang digital semakin kuat di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan (AI).
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....