Literasi Digital Saja Tidak Cukup, Pahami Cara Kerja Algoritma!

  • 10 Jun 2026 21:03 WIB
  •  Malang

RRI.CO.ID, Malang – Masyarakat dinilai perlu meningkatkan kemampuan memahami cara kerja algoritma media sosial seiring semakin banyaknya konten yang diproduksi secara artifisial, termasuk menggunakan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Tantangan pengguna media sosial saat ini tidak hanya berkaitan dengan literasi digital, tetapi juga kemampuan memahami bagaimana algoritma bekerja dalam membentuk arus informasi yang diterima setiap hari.

Demikian disampaikan Dosen Prodi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Malang, Megasari N. Fatanti, dalam program Malang Menyapa, Rabu, 10 Juni 2026.

"Kita belum selesai dengan literasi digital, tetapi sekarang harus berkejaran dengan literasi algoritmik. Bagaimana kesadaran kritis kita terhadap setiap postingan yang kita lihat," ujarnya.

Ia mengingatkan bahwa kemajuan teknologi AI membuat masyarakat semakin sulit membedakan antara konten yang autentik dan yang dibuat secara artifisial.

"Sekarang kita sering tidak tahu apakah suatu konten itu benar-benar nyata atau hasil rekayasa kecerdasan buatan. Saya sendiri pernah percaya terhadap konten seperti itu," katanya.

Menurutnya, kondisi tersebut menciptakan fenomena ruang gema atau echo chamber, yakni ketika pengguna terus-menerus menerima informasi yang sesuai dengan preferensi dan kebiasaan digital mereka.

"Kita berada dalam ruang gema yang semua isinya bergema sesuai apa yang kita klik dan apa yang kita sukai di media sosial," jelas Megasari.

Ia juga menyoroti munculnya tren pengguna yang memiliki akun media sosial tetapi memilih tidak aktif mengunggah konten sebagai bentuk respons terhadap tekanan pencitraan di ruang digital.

"Orang sekarang punya media sosial tetapi nol posting. Mereka memilih mengamati tanpa ikut terlibat aktif. Ini menunjukkan adanya perubahan cara masyarakat memaknai media sosial," ujarnya.

Megasari menegaskan bahwa kemampuan berpikir kritis menjadi bekal utama agar masyarakat tidak mudah terpengaruh oleh informasi viral yang belum tentu benar. Menurutnya, pengguna perlu memahami bahwa setiap interaksi digital yang dilakukan akan membentuk lingkungan informasi yang mereka terima di masa depan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....