Hari Media Sosial, Akademisi: Algoritma Lebih Suka yang Viral daripada yang Benar

  • 10 Jun 2026 20:58 WIB
  •  Malang

RRI.CO.ID, Malang – Peringatan Hari Media Sosial menjadi momentum refleksi terhadap dampak platform digital yang kini menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat. Dosen Prodi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Malang, Megasari N. Fatanti, menilai media sosial saat ini berada dalam posisi dilematis antara membawa manfaat sekaligus risiko bagi pengguna.

Dalam program Malang Menyapa, membahas "Media Sosial: Mendekatkan atau Menjauhkan? Kawan atau Lawan?", Rabu, 10 Juni 2026, Megasari menjelaskan bahwa media sosial kini tidak lagi sekadar menjadi sarana berbagi informasi, melainkan telah berkembang menjadi infrastruktur komunikasi yang mampu membentuk pola pikir dan perilaku masyarakat.

"Media sosial benar-benar seperti wajah dewa Janus, memiliki dua kepribadian. Di satu sisi bisa menghadirkan informasi yang bermanfaat, tetapi di sisi lain juga bisa mengarahkan pengguna pada konten yang memicu emosi negatif," ujarnya.

Menurutnya, persoalan utama terletak pada cara kerja algoritma yang lebih mengutamakan viralitas dibandingkan validitas informasi. Akibatnya, konten yang banyak menarik perhatian sering kali memperoleh jangkauan lebih luas meskipun belum tentu benar.

"Masalahnya algoritma sekarang tidak bekerja berbasis informasi yang benar atau valid, tetapi dari viralitas. Yang terkenal belum tentu yang benar," katanya.

Perempuan alumni Magister Ilmu Komunikasi UB ini menjelaskan bahwa setiap aktivitas pengguna, mulai dari menyukai, membagikan, hingga mengomentari suatu unggahan, akan dibaca oleh algoritma sebagai preferensi yang kemudian terus diperkuat melalui rekomendasi konten serupa.

"Ketika kita mengklik informasi negatif atau yang memancing emosi, algoritma akan mengikuti cara kerja itu dan secara tidak langsung pikiran kita juga akan terdorong ke arah yang sama," ungkap Megasari.

Kondisi tersebut, lanjutnya, berpotensi menciptakan ruang komunikasi yang dipenuhi kemarahan, polarisasi, hingga fenomena cancel culture yang kerap muncul tanpa didasari verifikasi informasi yang memadai.

"Kalau dilihat proporsinya sekarang, saya melihat kecenderungannya memang lebih negatif karena algoritma lebih menyukai sesuatu yang viral. Viral belum tentu benar," tegas

Megasari menambahkan bahwa posisi media sosial sebagai kawan atau lawan sangat bergantung pada cara masyarakat menggunakannya. Kesadaran kritis menjadi faktor penting agar pengguna tidak terjebak dalam arus informasi yang hanya mengandalkan sensasi dan emosi.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....