UM Dorong Budaya Berpikir Kritis Hadapi Era AI dan Banjir Informasi

  • 21 Jul 2026 11:13 WIB
  •  Malang
RRI.CO.ID, Malang - Di tengah derasnya arus informasi digital dan perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), kemampuan berpikir kritis dinilai menjadi kompetensi yang semakin penting dimiliki mahasiswa. Universitas Negeri Malang (UM) pun mendorong penguatan budaya bertanya, berdialog, dan menguji informasi sebagai bagian dari tradisi akademik di perguruan tinggi.

Komitmen tersebut mengemuka dalam diskusi bersama Profesor Emeritus Monash University, Ariel Heryanto yang membahas pentingnya berpikir kritis bagi kehidupan demokratis di Du Xiu Shu Fang UPT Perpustakaan UM.

Rektor UM, Prof. Dr. Hariyono, M.Pd. mengatakan, perguruan tinggi tidak hanya bertugas menghasilkan lulusan yang menguasai ilmu pengetahuan, tetapi juga mampu berpikir mandiri dan kritis dalam menghadapi berbagai persoalan masyarakat.

"Ilmu pengetahuan berkembang karena adanya pertanyaan. Kampus harus menjadi ruang yang memberi keberanian kepada mahasiswa untuk bertanya, berdiskusi, dan menguji berbagai gagasan secara ilmiah," katanya, Selasa (21/7/2026).

Menurut Hariyono, kemampuan berpikir kritis menjadi semakin relevan di era digital ketika masyarakat dibanjiri informasi yang belum tentu benar. Karena itu, mahasiswa perlu dibiasakan melakukan verifikasi, analisis, dan melihat persoalan dari berbagai sudut pandang sebelum mengambil kesimpulan.

Ia berharap tradisi akademik tersebut terus berkembang di lingkungan UM sehingga mampu melahirkan intelektual yang produktif sekaligus memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat.

Dalam diskusi tersebut, dosen UM Ronal Ridhoi, S.Hum., M.A. mengulas buku Nasib Publik dalam Republik yang menghimpun sekitar 100 tulisan Ariel Heryanto mengenai budaya, media, pendidikan, politik, hingga nasionalisme.

Menurut Ronal, konsistensi Ariel Heryanto menyampaikan gagasan kritis selama lebih dari empat dekade menjadi contoh bahwa akademisi memiliki peran penting menghadirkan perspektif ilmiah di ruang publik.

"Pemikiran akademik seharusnya tidak berhenti di ruang kelas atau jurnal ilmiah, tetapi juga hadir di ruang publik agar dapat memperkaya diskusi dan meningkatkan literasi masyarakat," ujarnya.

Melalui forum tersebut, UM menegaskan komitmennya membangun ekosistem akademik yang mendorong budaya berpikir kritis, dialog terbuka, dan kebebasan akademik yang bertanggung jawab.

Upaya ini diharapkan dapat membekali mahasiswa dengan kemampuan menganalisis informasi secara objektif, menyampaikan argumentasi berbasis data, serta tetap adaptif menghadapi perubahan zaman.

Selain memperkuat kualitas pendidikan tinggi, pengembangan budaya berpikir kritis juga mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 tentang Pendidikan Berkualitas dan SDG 16 tentang penguatan institusi yang inklusif melalui pengembangan ruang dialog yang demokratis di lingkungan kampus.
google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....