Literasi Digital dari Rumah, Kunci Anak Terhindar dari Fake News

  • 10 Jun 2026 09:42 WIB
  •  Malang

RRI.CO.ID, Malang - Upaya melindungi anak dari paparan berita bohong atau fake news tidak cukup dilakukan saat mereka sudah aktif menggunakan media sosial. Edukasi justru perlu dimulai sejak usia dini melalui peran orang tua di rumah. Hal tersebut mengemuka dalam Dialog Interaktif Literasi Digital RRI Malang bertema Mengenal Fake News Sejak Dini bersama Komunitas Read Aloud Malang Raya.

Kapten Divisi Research and Development Read Aloud Malang Raya, Nana, menjelaskan bahwa anak usia dini berada pada fase perkembangan otak yang masih menyerap berbagai informasi tanpa mampu membedakan mana fakta dan mana informasi yang keliru. Karena itu, literasi digital pada anak harus dimulai dengan membekali orang tua terlebih dahulu.

“Anak usia dini itu masih menerima apa saja yang dilihat, didengar, dan dibaca. Mereka belum bisa membedakan mana fakta, mana opini, bahkan mana yang merupakan hasil editan atau kecerdasan buatan. Di sinilah peran orang tua untuk meluruskan bahwa tidak semua informasi yang mereka lihat itu benar,” ujarnya, Selasa (9/6/2026).

Menurut Nana, perkembangan teknologi, termasuk kehadiran kecerdasan buatan atau AI, membuat tantangan literasi digital semakin besar. Anak-anak yang belum memiliki kemampuan berpikir kritis berisiko menganggap seluruh informasi yang muncul di layar sebagai sesuatu yang nyata dan benar.

Sementara itu, Kapten Divisi Society Relation Read Aloud Malang Raya, Ulfi Urfilah, menegaskan bahwa proses membangun kemampuan anak dalam memilah informasi harus dimulai dari kebiasaan keluarga sehari-hari. Orang tua yang memiliki kebiasaan membaca dan berdiskusi cenderung menularkan pola yang sama kepada anak.

“Ketika orang tua punya bekal literasi yang baik, anak akan ikut belajar. Semua dimulai dari rumah. Orang tua yang suka membaca dan terbiasa memilah informasi biasanya akan membentuk anak yang tidak mudah terprovokasi,” kata Ulfi.

Ia menambahkan, di era digital saat ini orang tua tidak cukup hanya membatasi penggunaan gawai. Pendampingan dan komunikasi aktif menjadi kunci agar anak terbiasa bertanya dan memverifikasi informasi sebelum mempercayainya. Dengan demikian, kemampuan mengenali hoaks dapat tumbuh sejak dini sebagai bagian dari budaya literasi keluarga.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....