Literasi Digital Rendah Picu Penipuan Online

  • 24 Mei 2026 19:24 WIB
  •  Malang

RRI.CO.ID, Malang - Kasus rendahnya literasi digital masih sering terjadi terutama pada kelompok lansia yang belum memahami ancaman keamanan digital. Fenomena ini menunjukkan kesenjangan pengetahuan teknologi yang berdampak serius terhadap keamanan data pribadi serta keuangan masyarakat di berbagai daerah.

“Banyak lansia tanpa sadar mengklik tautan berbahaya yang sebenarnya merupakan bagian dari praktik phishing yang sering digunakan pelaku kejahatan siber. Kurangnya pemahaman membuat mereka tidak menyadari bahwa tindakan sederhana tersebut dapat membuka akses bagi penipu untuk mengambil data penting pribadi,” ujar Elda Velisa - Member Komunitas Read Aloud Malang Raya, Sabtu (23/05/2026).

Dalam beberapa kasus, korban baru menyadari setelah mengalami kerugian seperti kehilangan uang di rekening bank tanpa mengetahui penyebab pastinya. Mereka merasa tidak melakukan aktivitas mencurigakan padahal sebelumnya telah mengikuti instruksi dari pelaku yang memanipulasi melalui pesan atau tautan tertentu.

Kondisi ini memperlihatkan bahwa ancaman digital masih banyak bertebaran di sekitar masyarakat dan dapat menimpa siapa saja tanpa mengenal usia.

“Phishing menjadi salah satu metode paling umum yang digunakan karena mudah menipu korban yang belum memiliki pemahaman dasar keamanan digital. Dampak dari kurangnya literasi digital tidak hanya terbatas pada kerugian materi tetapi juga berdampak pada kondisi psikologis korban secara signifikan,” imbuhnya.

Selain tekanan psikologis, korban juga merasakan kecemasan berkepanjangan karena merasa tidak aman dalam menggunakan teknologi digital di kehidupan sehari-hari. Hal ini menunjukkan bahwa keamanan digital tidak hanya soal teknologi tetapi juga menyangkut kesejahteraan mental masyarakat secara luas.

Masih ada anggapan sebagian masyarakat bahwa mereka aman karena merasa bukan target penting dalam dunia digital yang semakin kompleks saat ini. Padahal, pelaku kejahatan siber tidak memilih korban berdasarkan status melainkan berdasarkan peluang dan tingkat kewaspadaan yang rendah.

“Rasa aman memang diperlukan, namun kewaspadaan tetap harus menjadi prioritas utama dalam beraktivitas di ruang digital yang penuh risiko. Kesadaran menjadi kunci penting agar masyarakat tidak mudah dimanipulasi oleh pihak yang memiliki niat jahat melalui berbagai cara yang meyakinkan. Dengan meningkatkan literasi digital, masyarakat diharapkan mampu mengenali ancaman serta melindungi diri dari berbagai bentuk kejahatan siber yang berkembang,” pesannya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....