Dampak Gadget Berlebihan di Anak Generasi Covid
- 14 Mei 2026 11:42 WIB
- Malang
RRI.CO.ID, Malang - Paparan gadget berlebihan pada anak usia dini dinilai mulai berdampak nyata terhadap perkembangan sosial hingga kemampuan fokus anak di sekolah. Hal itu disampaikan guru kelas 1 SD Negeri 2 Wonosari, Devita yang mengaku banyak menemukan perubahan perilaku pada murid-murid generasi pascapandemi Covid-19. Menurutnya, anak-anak saat ini cenderung lebih akrab dengan layar dibanding interaksi langsung dengan lingkungan sekitar.
“Anak-anak yang aku ajar sekarang itu anak-anak yang besar di generasi Covid. Otomatis mereka lebih banyak berinteraksi dengan gadget daripada dengan manusia,” ujarnya, Rabu (13/5/2026)
Ia menyebut kondisi tersebut berpengaruh terhadap konsentrasi anak di kelas. Tidak sedikit murid yang sulit fokus, mudah tantrum, hingga kesulitan membedakan realita dengan apa yang mereka lihat di internet.
“Kalau kebanyakan nonton short video itu anak jadi lebih gampang tantrum dan susah fokus,” katanya.
Devita bahkan menemukan kasus anak yang mengalami keterlambatan bicara atau speech delay akibat terlalu lama terpapar gadget.
“Ada orang tua cerita, anaknya dulu lebih dari lima jam sehari gadget dan TV. Akhirnya speech delay,” ungkapnya.
Tak hanya itu, ia juga menemukan anak yang terbiasa mengonsumsi konten berbahasa Inggris di YouTube hingga kesulitan menggunakan Bahasa Indonesia saat mulai sekolah.
“Dia terbiasa nonton bahasa Inggris, jadi waktu sekolah agak kesulitan pakai Bahasa Indonesia karena kurang interaksi langsung sama orang tua,” jelasnya.
Menurut Devita, media sosial dan game online juga mulai menjadi tantangan baru bagi anak-anak SD. Ia mengaku prihatin karena sudah ada murid kelas 1 yang memiliki akun TikTok hingga aktif bermain game daring dengan fitur voice chat.
“Anak kelas satu sekarang ada yang punya TikTok. Bahkan di game ada voice live, itu bahaya banget kalau gak diawasi,” katanya.
Ia menegaskan bahwa persoalan utama sebenarnya bukan pada teknologi, melainkan pengawasan dan pendampingan dari orang tua.
“Yang salah bukan sosial medianya, tapi kita sebagai pengguna yang kadang tidak terkontrol. Kalau buat anak kecil, orang tua yang paling punya tanggung jawab untuk pengawasan,” tegasnya.
Devita juga menyoroti pentingnya mengurangi screen time dan mengajak anak kembali aktif bermain di luar rumah. Menurutnya, permainan tradisional memiliki banyak manfaat untuk perkembangan motorik dan sosial anak.
“Permainan tradisional itu banyak membantu motorik dan fokus anak. Dulu kita main petak umpet, gobak sodor, dakon, itu ternyata bagus buat perkembangan anak,” ujarnya.
Ia berharap orang tua bisa lebih bijak dalam mengenalkan gadget kepada anak dan tidak menjadikan layar sebagai pengganti kebersamaan keluarga.
“Yang paling penting untuk anak itu sebenarnya kebersamaan dengan orang tua, bukan gadget atau mainan mahal,” pungkasnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....