Orangtua Diminta Tingkatkan Literasi Media Dampingi Anak
- 11 Mei 2026 19:30 WIB
- Malang
RRI.CO.ID, Malang - Tingginya penggunaan internet di Indonesia menjadi tantangan tersendiri bagi orangtua dalam mendampingi tumbuh kembang anak di era digital. Kehadiran gadget, media sosial, hingga platform streaming kini tidak hanya menjadi kebutuhan informasi, tetapi juga bagian dari aktivitas harian keluarga. Kondisi tersebut membuat literasi media dinilai semakin penting agar anak tetap mendapatkan pendampingan yang sehat dalam penggunaan teknologi.
Blogger dan penulis buku dari Komunitas Payung Literasi, Jihan Mawaddah, mengatakan berdasarkan survei tahun 2025 terdapat sekitar 77 persen masyarakat yang mengakses internet. Mayoritas pengguna berada pada rentang usia produktif 16 hingga 46 tahun. Menurutnya, kondisi ini menjadi pekerjaan rumah bagi para orangtua agar mampu memberikan contoh penggunaan media digital yang bijak sebelum membatasi anak.
“PR terbesar kita sebagai orangtua sebenarnya bukan sekadar melarang anak bermain gadget, tetapi apakah kita sendiri sudah mampu membatasi penggunaan internet dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya kepada RRI di acara Literasi Digital Pro 1 RRI Malang, Senin (11/5/2026).
Ia menjelaskan rata-rata masyarakat menghabiskan waktu sekitar 7 jam 42 menit per hari untuk mengakses internet. Aktivitas tersebut meliputi menonton streaming, membuka YouTube, hingga bermain media sosial. Karena itu, orangtua perlu memahami siapa saja yang mengakses internet di rumah serta jenis konten yang dikonsumsi anak setiap hari.
Menurut Jihan, penggunaan gadget berlebihan pada anak dapat memengaruhi kondisi psikologis dan perkembangan otak. Ia menjelaskan dalam tubuh manusia terdapat hormon dopamin yang akan muncul ketika seseorang mendapatkan sesuatu yang menyenangkan. Namun, jika anak terlalu lama terpapar layar, hormon tersebut bisa mengalami kelebihan rangsangan.
“Anak-anak yang screentime-nya lebih dari empat jam berisiko mengalami overdosis dopamin. Dampaknya bisa memengaruhi kesehatan mental, daya juang menjadi rendah, dan anak terbiasa dengan segala sesuatu yang instan karena terlalu banyak kemudahan dari dunia digital,” katanya.
Ia menambahkan, dampak penggunaan gadget juga terlihat pada perkembangan otak anak. Dalam sejumlah ilustrasi perkembangan otak, paparan layar kurang dari satu jam per hari belum menunjukkan perubahan berarti. Namun pada durasi satu hingga dua jam mulai muncul perubahan aktivitas otak, sedangkan pada tiga hingga empat jam perubahan tersebut semakin meluas.
“Semakin tinggi durasi screentime, pengaruh terhadap otak juga semakin besar. Karena itu pendampingan orangtua menjadi sangat penting agar anak tetap memiliki kemampuan konsentrasi dan kontrol diri yang baik,” jelasnya.
Jihan menilai salah satu cara efektif untuk mengurangi ketergantungan gadget adalah membangun budaya literasi membaca di rumah. Aktivitas membaca dinilai mampu melatih fokus, konsentrasi, serta daya pikir anak dibandingkan hanya menerima hiburan instan dari layar digital.
“Penting sekali orangtua membiasakan anak membaca karena itu melatih konsentrasi dan kemampuan berpikir. Anak yang terbiasa membaca biasanya lebih sabar dalam berproses dibandingkan yang terlalu sering menerima hiburan cepat dari gadget,” tuturnya.
Ia juga menegaskan bahwa kondisi anak yang sudah terlanjur kecanduan gadget masih dapat diperbaiki secara bertahap. Menurutnya, selama masa pertumbuhan otak anak masih berlangsung, kemampuan berpikir dan kecerdasan tetap bisa dikembangkan melalui pola pendampingan yang tepat.
“Maintenance itu masih bisa dilakukan. Kalau sekarang anak sudah terlalu sering bermain gadget, masih bisa dikurangi pelan-pelan karena pertumbuhan otaknya masih berkembang,” pungkasnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....