UNESCO Soroti Ketimpangan Gender dalam Krisis Air Global di Forum UB
- 11 Mei 2026 13:59 WIB
- Malang
RRI.CO.ID, Malang - Isu krisis air global tidak hanya berkaitan dengan lingkungan dan ketersediaan sumber daya alam, tetapi juga menyangkut persoalan kesetaraan gender. Hal tersebut menjadi salah satu sorotan utama UNESCO dalam rangkaian World Water Week 2026 yang digelar Universitas Brawijaya (UB), Senin (11/5/2026).
Dr. Engin Koncagul perwakilan UNESCO Regional Office Jakarta mengatakan, perempuan masih menghadapi ketimpangan besar dalam sektor pengelolaan sumber daya air, terutama pada level pengambilan keputusan. Padahal, perempuan justru menjadi kelompok yang paling dekat dengan pengelolaan air dalam kehidupan sehari-hari.
“Separuh populasi dunia adalah perempuan, tetapi dalam pengelolaan sumber daya air, khususnya pada tingkat pengambilan keputusan, ketimpangan gender masih sangat besar,” ujarnya.
Menurutnya, laporan United Nations World Water Development Report 2026 yang diterbitkan UNESCO tahun ini secara khusus mengangkat tema gender dan air. Laporan tersebut menyoroti rendahnya keterlibatan perempuan dalam sektor air meskipun mereka memiliki peran penting di tingkat rumah tangga dan komunitas.
Berdasarkan data UNESCO, saat ini hanya sekitar 25 persen tenaga kerja di sektor pengelolaan air yang berasal dari perempuan. Kondisi tersebut dinilai menunjukkan bahwa suara perempuan masih belum cukup terwakili dalam kebijakan dan pengelolaan sumber daya air global.
“Perempuan sering bertanggung jawab mengambil dan mengelola air di rumah tangga, tetapi suara mereka belum banyak terdengar dalam pengambilan keputusan di level yang lebih tinggi,” katanya.
Dr. Engin menegaskan, tanpa adanya kesetaraan gender dalam partisipasi, pengelolaan, hingga investasi di sektor air, target pembangunan berkelanjutan dunia akan sulit tercapai.
“Laporan tahun ini menekankan bahwa pembangunan berkelanjutan tidak akan menjadi kenyataan jika kesetaraan gender di sektor air belum terwujud,” jelasnya.
Dalam forum tersebut, UNESCO juga mengapresiasi Universitas Brawijaya yang dinilai aktif mengangkat isu air dan kesetaraan gender melalui kolaborasi akademik internasional. UB menjadi perguruan tinggi di Indonesia yang dipercaya menerjemahkan laporan global UNESCO terkait sumber daya air ke dalam Bahasa Indonesia.
“Universitas Brawijaya mengambil peran utama dalam menerjemahkan laporan global ini ke Bahasa Indonesia. Ini menunjukkan komitmen nyata UB terhadap isu pengelolaan air dan kesetaraan gender,” ujarnya.
Ia menilai Indonesia memiliki potensi besar menjadi contoh dalam pengelolaan sumber daya air yang lebih inklusif karena mulai melibatkan perempuan, generasi muda, dan berbagai kelompok masyarakat dalam proses pengambilan keputusan.
“Indonesia merupakan salah satu role model dalam pelibatan perempuan dan anak muda dalam pengelolaan sumber daya air,” katanya.
Melalui kolaborasi bersama UNESCO dan Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO, UB diharapkan dapat terus memperkuat peran perguruan tinggi dalam membangun kesadaran publik mengenai pentingnya keadilan akses air sekaligus kesetaraan gender sebagai bagian dari agenda pembangunan berkelanjutan dunia.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....