Digitalisasi Pendidikan Dinilai Belum Merata, Guru Soroti Kesenjangan Fasilitas
- 03 Mei 2026 18:06 WIB
- Malang
RRI.CO.ID, Malang - Dialog interaktif di Pro 1 RRI Malang juga mengungkap sisi lain dari penerapan digitalisasi pembelajaran di sekolah. Meskipun telah digaungkan secara luas, implementasi di lapangan masih menghadapi berbagai tantangan yang cukup kompleks.
Shintia Rachmayanti, S. Pd., guru Pendidikan Pancasila dari MTs Hasyim Asy’ari Kota Batu, menyebut bahwa kondisi pendidikan saat ini masih berada dalam tahap transisi yang belum sepenuhnya merata. Ia bahkan menggambarkan situasi tersebut sebagai “abu-abu” karena masih terdapat kesenjangan yang cukup signifikan antar wilayah.
“Kalau menurut saya, pendidikan sekarang masih abu-abu karena masih banyak ketimpangan dan kesenjangan fasilitas,” ungkapnya pada Sabtu (2/5/2026).
Ia mencontohkan adanya sekolah di daerah tertentu yang masih memiliki keterbatasan fasilitas dasar dalam proses pembelajaran. Sementara di sisi lain, beberapa sekolah sudah menggunakan perangkat digital canggih seperti papan interaktif dan perangkat tablet.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa digitalisasi belum sepenuhnya dapat diakses secara merata oleh seluruh peserta didik di Indonesia. Perbedaan ini menjadi tantangan besar dalam mewujudkan pendidikan yang berkualitas dan inklusif bagi semua kalangan.
Di tingkat sekolah, keterbatasan fasilitas juga masih dirasakan meskipun upaya digitalisasi sudah mulai dilakukan secara bertahap. Misalnya, penggunaan LCD proyektor yang harus dilakukan secara bergantian karena jumlah perangkat yang terbatas.
Selain itu, tidak semua siswa memiliki perangkat pendukung seperti telepon pintar atau akses internet yang memadai. Hal ini berdampak pada kesulitan dalam mengikuti pembelajaran berbasis digital secara optimal di dalam kelas.
“Kadang ada siswa yang tidak punya kuota atau bahkan tidak membawa handphone saat dibutuhkan untuk pembelajaran,” jelasnya. Kondisi ini menurutnya, menuntut guru untuk tetap fleksibel dalam menyesuaikan metode pengajaran di kelas.
Tantangan lainnya muncul dari penggunaan gadget yang berpotensi mengganggu fokus belajar siswa selama proses pembelajaran berlangsung. Beberapa siswa masih memanfaatkan perangkat tersebut untuk bermain game atau mengakses konten di luar materi pelajaran.
Ia menegaskan bahwa diperlukan aturan dan kesepakatan yang jelas agar penggunaan teknologi tetap terarah dalam kegiatan belajar. Dengan demikian, digitalisasi dapat memberikan manfaat maksimal tanpa menimbulkan dampak negatif bagi siswa.
Melihat kondisi tersebut, ia berharap adanya perhatian lebih dari pemangku kebijakan terhadap pemerataan fasilitas pendidikan. Upaya ini dinilai penting agar digitalisasi benar-benar menjadi jembatan menuju pendidikan bermutu, bukan justru memperlebar kesenjangan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....