Literasi 66 Persen, FOMO Picu Risiko Keuangan Mahasiswa

  • 01 Mei 2026 09:43 WIB
  •  Malang

RRI.CO.ID, Malang – Fenomena fear of missing out (FOMO) semakin memengaruhi perilaku keuangan mahasiswa di tengah pesatnya perkembangan layanan keuangan digital. Tekanan untuk mengikuti tren kerap mendorong pengeluaran tanpa perencanaan yang matang.

Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Malang, Farid Faletehan, mengingatkan agar generasi muda tidak mudah terbawa arus gaya hidup yang konsumtif.

“Jangan terlalu tergiur pengeluaran yang sifatnya FOMO, ikut-ikutan. Pinjaman online itu pertumbuhannya signifikan, jangan sampai mudah pinjam tapi sulit melunasi,” ujarnya.

Menurutnya, kemudahan akses layanan keuangan saat ini perlu diimbangi dengan pemahaman yang baik agar tidak menimbulkan risiko di kemudian hari. Terlebih, riwayat pinjaman akan tercatat dan dapat memengaruhi masa depan, termasuk dalam proses melamar pekerjaan.

Berdasarkan Indeks Literasi dan Inklusi Keuangan Nasional (SNLIK) 2025, tingkat literasi keuangan masyarakat Indonesia baru mencapai 66,46 persen, sementara inklusi keuangan telah berada di angka 80,51 persen. Kesenjangan ini menunjukkan masih perlunya peningkatan pemahaman masyarakat dalam mengelola keuangan.

Kondisi tersebut semakin relevan bagi generasi muda yang aktif menggunakan layanan keuangan digital. Tanpa literasi yang memadai, kemudahan akses justru berpotensi mendorong keputusan finansial yang kurang bijak.

Kepala Kantor Perwakilan II Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), Bambang S. Hidayat, menilai mahasiswa memiliki peran penting sebagai agen perubahan dalam menyebarkan pemahaman keuangan.

“Kami berharap edukasi ini bisa ditularkan melalui media sosial dan lingkungan mereka,” ujarnya.

Selain itu, masyarakat juga diingatkan untuk lebih waspada terhadap berbagai modus layanan keuangan ilegal yang kerap memanfaatkan tren digital, termasuk yang dikemas dalam bentuk aplikasi atau gim.

Sementara itu, Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Malang, Indra Kuspriyadi, menekankan pentingnya pemanfaatan layanan keuangan digital untuk kegiatan yang produktif.

“Digitalisasi bukan lagi pilihan, tetapi kebutuhan. Kita dorong agar dimanfaatkan untuk hal produktif,” katanya.

Kegiatan edukasi literasi keuangan yang digelar LPS bersama OJK dan Bank Indonesia di Universitas Tribhuwana Tunggadewi Malang menjadi salah satu upaya untuk meningkatkan kesadaran mahasiswa dalam mengelola keuangan secara bijak di era digital.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....