Fenomena “Chronically Online” dan Dampaknya bagi Kehidupan Nyata
- 29 Jan 2026 12:27 WIB
- Malang
RRI.CO.ID, Malang - Fenomena chronically online atau daring kronis kini menjadi perhatian di tengah meningkatnya penggunaan internet, khususnya media sosial. Kondisi ini merujuk pada perilaku seseorang yang menghabiskan terlalu banyak waktu di dunia digital hingga memengaruhi kehidupan pribadinya di dunia nyata. Seiring kemajuan teknologi dan kemudahan akses internet, risiko terjebak dalam kondisi ini semakin besar, terutama di kalangan generasi muda dan pekerja digital.
Berdasarkan unggahan media sosial Instagram Kementrian Komunikasi dan Digital (kemkomdigi), salah satu ciri utama dari chronically online adalah meningkatnya konsumsi internet secara berlebihan. Aktivitas daring yang terus-menerus dapat mengganggu attention span atau rentang perhatian seseorang.
| Baca juga: Literasi Digital Rendah Picu Penipuan Online |
Akibatnya, individu menjadi lebih sulit berkonsentrasi dalam menyelesaikan tugas, baik di lingkungan kerja, pendidikan, maupun kehidupan sehari-hari.
Lebih lanjut, kondisi chronically online juga membawa sejumlah dampak negatif lainnya. Berdasarkan kajian dari Center for Digital Society (CFDS) Universitas Gadjah Mada, individu yang terlalu lama terpapar dunia digital berpotensi mengalami terhambatnya perkembangan sosial. Interaksi sosial secara langsung menjadi berkurang, sehingga kemampuan berkomunikasi dan membangun relasi di dunia nyata ikut terdampak.
Dampak berikutnya adalah penurunan fokus dan perhatian yang signifikan. Ketergantungan pada gawai membuat otak terbiasa dengan stimulasi cepat, sehingga aktivitas luring yang membutuhkan konsentrasi lebih lama terasa membosankan. Hal ini memicu munculnya rasa bosan terhadap kegiatan non-digital, seperti belajar, bekerja, atau berinteraksi tatap muka.
Untuk menghindari dampak negatif chronically online, terdapat beberapa langkah pencegahan yang dapat dilakukan. Salah satunya dengan menerapkan digital curfew, yaitu membatasi penggunaan ponsel dan akses internet pada waktu-waktu tertentu, khususnya sebelum tidur atau saat berkumpul bersama keluarga.
Selain itu, masyarakat juga dianjurkan untuk kembali menghidupkan hobi dan aktivitas luring yang disukai, seperti membaca buku, berolahraga, atau memasak. Kegiatan tersebut dapat membantu menyeimbangkan kehidupan digital dan nyata. Pemanfaatan aplikasi pengatur waktu konsumsi media sosial juga dinilai efektif untuk mengontrol durasi penggunaan internet agar tetap sehat dan produktif.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....