Teknologi dan Kearifan Lokal Bersatu di Semeru
- 05 Nov 2025 11:19 WIB
- Malang
KBRN, Pasuruan : Kabut tipis menyelimuti Desa Selok Anyar di lereng Gunung Semeru, Lumajang, ketika warga berkumpul di balai desa. Mereka menyambut tim pengabdi baik pelaksana dan pendamping dari dua perguruan tinggi yang membawa semangat perubahan melalui Program Kolaborasi Sosial membangun masyarakat (KOSABANGSA).
Program yang digagas Universitas Yudharta Pasuruan dan Universitas Nusantara PGRI Kediri ini bertujuan menjembatani ilmu pengetahuan dengan kehidupan masyarakat pedesaan, terutama di wilayah rawan bencana. Fokusnya adalah peningkatan produktivitas pertanian dan penguatan mitigasi erupsi Semeru.
“Kami datang membawa semangat kolaborasi, bukan instruksi,” ujar Dosen pelaksana dari Universitas Yudharta Pasuruan, Dr. Any Urwatul Wusko, M.AB., Rabu (5/11/2025).

Kolaborasi untuk Solusi Nyata
Ia menjelaskan melalui diskusi dan pemetaan potensi desa, tim bersama warga menyepakati dua prioritas utama: transformasi teknologi pangan dan penguatan kesiapsiagaan bencana. Pendekatan partisipatif ini membuat warga lebih terbuka terhadap inovasi yang ditawarkan.
Desa Selok Anyar dikenal sebagai penghasil padi, singkong, pisang, dan umbi-umbian. Namun pengolahan hasil pertanian masih sederhana, sementara ancaman erupsi Gunung Semeru terus menghantui. Dari situ lahir gagasan menghadirkan teknologi tepat guna yang mudah dioperasikan masyarakat.
Tiga Inovasi Utama untuk Desa Tangguh
Dr. Any merinci, program KOSABANGSA membawa tiga teknologi yang langsung menyentuh kebutuhan warga.
Pertama, teknologi fermentor pupuk, yang mengubah limbah pertanian menjadi pupuk organik berkualitas tinggi. Petani kini mampu memproduksi pupuk sendiri, menghemat biaya, sekaligus memperbaiki kualitas tanah vulkanik.
Kedua, mesin pencacah, yang membantu petani menghancurkan bahan organik agar lebih halus, mempercepat penguraian, dan mempermudah pembuatan pupuk organik.
Ketiga, teknologi mitigasi erupsi, berupa sistem peringatan dini dan peta digital zona bahaya. Warga dilatih menggunakan aplikasi informasi bencana dan alat pendeteksi getaran sederhana untuk mempercepat evakuasi saat darurat.
Petani desa setempat, Ridho mengaku inovasi mesin pencacah pangan sangat membantu masyarakat petani di desanya.
“Dulu terkadang petani bergantung pada pupuk subsidi, kini mereka sudah siap produksi pupuk sendiri,” ungkap Ridho.
Pemuda Jadi Garda Depan
Peran Karang Taruna menjadi krusial dalam pelatihan dan penyebaran informasi mitigasi. Para pemuda desa kini rutin menggelar simulasi evakuasi dan membagikan Buku Saku Tangguh Semeru ke setiap keluarga.
“Kami belajar bukan hanya bertahan, tapi saling menjaga,” kata koordinator relawan muda desa, Abd. Khafid.
Pelatihan ini menumbuhkan kepercayaan diri dan kesadaran kolektif masyarakat terhadap pentingnya kesiapsiagaan bencana.

Teknologi yang Membumi
Kepala Desa Selok Anyar, Nurasim mengapresiasi hadirnya program KOSABANGSA yang dinilai membawa perubahan nyata bagi warganya.
“Kami sadar, teknologi tidak harus mahal. Yang penting bisa kami gunakan dan dirasakan manfaatnya,” ujarnya.
Selain membekali warga dengan pengetahuan baru, program ini juga memperkuat jaringan antara akademisi, masyarakat, dan pemerintah desa. Pendekatan gotong royong dan kearifan lokal menjadi kunci keberhasilan penerapan teknologi sederhana namun efektif.
Dampak Nyata di Masyarakat
Evaluasi di akhir program menunjukkan capaian yang menggembirakan. Produktivitas Petani meningkat, kelompok tani menghasilkan pupuk organik sendiri, dan kesiapsiagaan warga terhadap ancaman erupsi semakin tinggi.
Program ini juga melahirkan sejumlah luaran akademik berupa artikel populer, video dokumentasi, dan infografis edukatif yang memperluas dampak sosial.
Cahaya Perubahan dari Kaki Semeru
Dr. Any menambahkan KOSABANGSA membuktikan bahwa teknologi dan kearifan lokal dapat berjalan beriringan. Teknologi memberi efisiensi dan daya tahan, sementara kearifan lokal memastikan keberlanjutan dan kebersamaan.
Dari Desa Selok Anyar di kaki Gunung Semeru, cahaya perubahan mulai bersinar. Warga yang dahulu hidup dalam ketidakpastian kini bangkit dengan kepala tegak, berdaya secara ekonomi, siap secara pengetahuan, dan tangguh menghadapi bencana.
“Membangun desa berarti menguatkan bangsa. Dari kaki Semeru, kami menyalakan harapan,” tutup Dr. Any Urwatul Wusko.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....