Glow Innovation Talks, Upaya UB Dorong Hilirisasi Industri

  • 13 Mei 2026 13:43 WIB
  •  Malang

RRI.CO.ID, Malang - Ratusan mahasiswa Universitas Brawijaya Malang memenuhi gedung auditorium pada Rabu (13/5/2026). Mereka antusias mengikuti acara bertajuk “Glow Innovation Talks” yang diinisasi oleh Direktorat Inovasi dan Kawasan Sains Teknologi (DIKST). Kegiatan ini mempertemukan akademisi, industri kreatif, hingga pelaku usaha untuk membangun ekosistem inovasi yang berkelanjutan.

“Ini sebagai upaya memperkuat hilirisasi riset dan inovasi kampus agar mampu menembus pasar industri,” kata Ketua Pusat Inovasi dan Transfer Teknologi UB, Dias Satria saat ditemui di sela kegiatan, Rabu (13/5/2026).

Ia menjelaskan bahwa kegiatan tersebut menjadi ruang kolaborasi antara kampus dan industri dalam mengembangkan produk inovasi berbasis riset.

“Glow Innovation Talks merupakan acara hilirisasi dari produk-produk inovasi UB. Kami sudah meluncurkan produk bernama BOUMI, kemudian menghadirkan Staf Khusus Presiden Bidang Ekonomi Kreatif untuk menjembatani bagaimana produk inovasi kampus bisa sampai ke market,” ujarnya.

Glow Innovation Talks turut menghadirkan sejumlah tokoh nasional, diantaranya musisi sekaligus Staf Khusus Presiden Bidang Ekonomi Kreatif Yovie Widianto, CEO Martha Tilaar Group Kilala Tilaar, serta sejumlah tokoh inspiratif lainnya.

Dalam kegiatan tersebut, UB juga menggandeng Martha Tilaar Group bersama UMKM binaannya untuk terlibat dalam pengembangan produk inovasi hasil riset kampus.

Menurut Dias, penguatan inovasi menjadi kunci penting pembangunan ekonomi Indonesia di masa depan. Ia menilai ekonomi saat ini mulai bergerak dari berbasis sumber daya menuju ekonomi berbasis inovasi dan kreativitas.

“Untuk membuat Indonesia memiliki masa depan yang lebih baik, inovasi menjadi poin penting. Kreativitas adalah bahan bakar dari sebuah inovasi,” katanya.

Ia menambahkan, perkembangan 17 subsektor ekonomi kreatif membuka peluang besar bagi produk lokal untuk memiliki nilai tambah dan daya saing yang lebih kuat.

“Kampus inovasi harus punya peran di dalam pembangunan Indonesia,” tegasnya.

Salah satu fokus yang dikembangkan dalam Glow Innovation Talks adalah sektor kosmetik berbasis riset. Dias menjelaskan, selama ini tantangan terbesar inovasi kampus adalah adanya jarak antara hasil riset dengan kebutuhan pasar.

“Problem yang terjadi sekarang, riset dan inovasi masih punya jurang dengan produk yang ada di pasar,” ujarnya.

Melalui kolaborasi dengan Martha Tilaar Group, para peneliti UB mendapatkan market insight terkait tren industri kosmetik sehingga pengembangan produk dapat lebih sesuai dengan kebutuhan konsumen.

“Di awal kami diberi insight mengenai tren kosmetik ke depan seperti apa. Dari situ peneliti mulai mengembangkan produk yang sesuai dengan kebutuhan pasar,” jelas dosen FEB ini.

Tak hanya itu, UB juga mendapat dukungan dalam proses produksi kosmetik agar memenuhi standar industri. Produk kosmetik bernama BOMI yang dikembangkan UB diproduksi bersama Martha Tilaar Holding melalui PT Cedefindo.

Selain membahas hilirisasi produk inovasi, kegiatan tersebut juga menyoroti perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial intelligence (AI) dalam mendukung riset dan pengembangan produk.

Menurut Dias, AI bukan ancaman bagi manusia, melainkan teknologi pendukung dalam proses inovasi.

“AI bukan menggantikan manusia, tetapi melengkapi proses riset, teknologi, dan pengembangan produk,” tandasnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....