Panduan Praktis Manasik Haji: Jamaah Diminta Pahami Rukun Selama di Tanah Suci
- 12 Mei 2026 09:48 WIB
- Malang
RRI.CO.ID, Malang - Pelaksanaan ibadah haji memerlukan kesiapan fisik, mental, sekaligus pemahaman ilmu yang matang. Dalam tausiyah Mutiara Pagi di Pro 1 RRI Malang, Selasa (12/5/2026) Ustadz Rosyad menjelaskan bahwa haji bukan hanya perjalanan spiritual, tetapi juga latihan kesabaran dan pengendalian diri. Ia mengingatkan firman Allah SWT bahwa siapa saja yang telah berniat menunaikan haji, maka tidak boleh berkata-kata yang membangkitkan syahwat, berkata kasar, mencela, menghina, ataupun berbantah-bantahan selama menjalankan ibadah. Menurutnya, menjaga sikap dan lisan menjadi bagian penting dalam meraih haji mabrur.
“Haji bukan sekadar perjalanan fisik ke Tanah Suci, tetapi perjalanan memperbaiki akhlak dan mendekatkan diri kepada Allah SWT,” ujar Ustadz Rosyad.
Menurutnya inti pelaksanaan ibadah haji sebenarnya berlangsung sekitar enam hingga delapan hari, tepatnya pada tanggal 8 hingga 13 Dzulhijjah. Namun dalam praktiknya, jamaah bisa berada di Tanah Suci hingga sekitar 40 hari karena adanya proses perjalanan, manajemen pemberangkatan, pembagian kloter, penyesuaian transportasi, serta pelaksanaan ibadah lain di Makkah dan Madinah. “Yang memakan waktu panjang itu bukan hajinya saja, tetapi juga proses manajemen jutaan jamaah dari seluruh dunia,” jelasnya.
Ustadz Rosyad kemudian memaparkan panduan praktis manasik haji berdasarkan tahapan waktu pelaksanaannya. Pada tanggal 8 Dzulhijjah atau hari Tarwiyah, jamaah yang sudah berada di Makkah mempersiapkan diri untuk berihram haji dan menuju Arafah. Sebelum ihram, jamaah dianjurkan mandi besar, memotong kuku, merapikan rambut, kumis, bulu ketiak, serta memakai wewangian di badan, bukan pada kain ihram. Jamaah laki-laki mengenakan dua helai kain ihram, sedangkan perempuan menutup seluruh tubuh kecuali wajah dan telapak tangan. Setelah melaksanakan salat sunnah ihram, jamaah naik bus menuju Arafah dan mulai berniat haji sambil memperbanyak bacaan talbiyah, “Labbaikallahumma labbaik.”
Puncak ibadah haji berlangsung pada tanggal 9 Dzulhijjah, yaitu wukuf di Arafah. Ustadz Rosyad menegaskan bahwa siapa yang mendapatkan wukuf di Arafah, maka ia mendapatkan haji. Wukuf dimulai setelah matahari tergelincir ke barat hingga matahari terbenam. Pada waktu tersebut jamaah dianjurkan memperbanyak doa dan dzikir karena termasuk waktu mustajab. Jamaah juga melaksanakan salat Dzuhur dan Ashar dengan jamak qashar. Setelah maghrib, jamaah bergerak menuju Muzdalifah untuk melaksanakan salat Maghrib dan Isya secara jamak qashar, berdzikir, sekaligus mengambil kerikil untuk lempar jumrah. “Momentum wukuf adalah saat terbaik untuk memohon ampunan dan memperbanyak doa kepada Allah SWT,” kata Ustadz Rosyad.
Pada tanggal 10 Dzulhijjah, jamaah melaksanakan lempar jumrah Aqabah kemudian dilanjutkan tahallul dengan memotong minimal tiga helai rambut, meski lebih utama dicukur seluruhnya bagi laki-laki. Setelah itu jamaah kembali ke Mina untuk bermalam sambil memperbanyak takbir. Selanjutnya pada tanggal 11 dan 12 Dzulhijjah jamaah melakukan lempar jumrah Ula, Wustha, dan Aqabah. Setelah itu jamaah kembali ke Makkah untuk melaksanakan tawaf ifadah dan sa’i. Ustadz Rosyad juga menjelaskan tentang perbedaan nafar awal dan nafar tsani pada tanggal 13 Dzulhijjah, di mana keduanya diperbolehkan dan tidak ada larangan dalam memilih salah satunya.
Sebagai penutup rangkaian ibadah, jamaah melaksanakan tawaf wada sebagai salam perpisahan dengan Baitullah sebelum kembali ke Indonesia. Ustadz Rosyad mengingatkan agar jamaah tetap menjaga kesehatan, kesabaran, dan kekompakan selama menjalankan seluruh proses ibadah. Ia menilai keberhasilan haji bukan diukur dari banyaknya aktivitas yang dilakukan, melainkan dari perubahan sikap dan ketakwaan sepulang dari Tanah Suci. “Jangan sampai pulang haji hanya membawa gelar, tetapi tidak membawa perubahan akhlak dan kedekatan kepada Allah SWT,” tuturnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....