Bangkrut saat Pandemi, UMKM Malang Bangkit Berkat Inovasi
- 21 Jul 2026 15:06 WIB
- Malang
RRI.CO.ID, Malang - Pandemi Covid-19 menjadi pukulan berat bagi banyak pelaku usaha, termasuk Restu Sayur milik Emi Widyawati Marsuti. Bisnis distribusi hasil pertanian yang telah dirintis sejak 1994 nyaris berhenti total akibat hilangnya pasar selama pandemi.
Dalam dialog bersama RRI Malang, Emi mengungkapkan bahwa sebelum pandemi usahanya memasok sayuran segar ke hotel, katering, restoran, dan supermarket.
Model bisnis tersebut dibangun melalui kemitraan dengan petani di berbagai wilayah Malang Raya.
"Kami sudah membuat kesepakatan sejak awal. Petani menanam sesuai kebutuhan kami, lalu seluruh hasil panen kami beli dengan harga yang sudah disepakati," jelasnya, Selasa (21/7/2026).
Situasi berubah drastis ketika pandemi Covid-19 melanda.
Hotel tutup, katering berhenti beroperasi, resepsi pernikahan dibatalkan, hingga restoran mengalami penurunan aktivitas. Akibatnya, hampir seluruh permintaan sayuran hilang dalam waktu singkat.
Komoditas seperti kentang, wortel, hingga berbagai sayuran lain tidak lagi dipanen karena tidak memiliki pembeli.
"Kalau dibilang rugi, ya rugi sekali. Bahkan bisa dibilang bangkrut," ungkap Emi.
Ia menjelaskan bahwa petani mitranya tersebar di berbagai wilayah seperti Dampit dan Lumajang sehingga dampak pandemi juga dirasakan secara luas.
Di tengah keterbatasan tersebut, Emi mencoba mempertahankan usaha dengan memanfaatkan jaringan mahasiswa penghuni kos sebagai kurir.
Melalui layanan antar ke rumah, masyarakat dapat membeli kebutuhan sayur dengan minimal belanja Rp250 ribu.
Namun strategi tersebut belum mampu menggantikan hilangnya pasar utama.
"Kalau stok ada satu kuintal, yang terjual hanya lima kilogram. Jelas tidak bisa menutup biaya," katanya.
Tidak ingin menyerah, Emi memilih melakukan inovasi dengan mengolah hasil pertanian menjadi produk yang memiliki masa simpan lebih panjang.
Berbagai uji coba dilakukan hingga akhirnya lahirlah Surya Chips atau Restu Chips yang mulai dikembangkan sekitar tahun 2015 dan terus disempurnakan setelah pandemi.
Kini usahanya memiliki sejumlah produk unggulan, di antaranya Marning Sultan, Gincu, Jijep, dan Rampis.
Marning Sultan dibuat dari jagung manis segar yang langsung diproses sehingga menghasilkan tekstur lebih renyah dibanding marning pada umumnya.
Sementara Gincu merupakan olahan jahe kering berpadu kacang karamel dan rempah-rempah.
Produk lainnya adalah Jijep, yakni jipang berbahan beras ketan putih dan hitam dengan perisa alami dari jeruk, serta Rampis yang merupakan rambak berbahan dasar pisang.
Seluruh merek tersebut telah memiliki perlindungan Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI).
Saat ini produk olahan tersebut telah dipasarkan di sekitar 20 gerai oleh-oleh dan hotel di Malang.
Di antaranya tersedia di Malang Strudel, Pia Mangkok, Rohani Keripik Tempe, Titik Nol Cafe, Hotel Shalimar, Swiss-Belinn, hingga sejumlah pusat oleh-oleh lainnya.
Menurut Emi, inovasi menjadi satu-satunya jalan agar UMKM mampu bertahan menghadapi perubahan.
"Kalau kita tidak adaptif, usaha bisa berhenti. Yang penting terus mencari apa yang bisa dilakukan dari apa yang kita miliki," ujarnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....