UMKM Malang Sulap Hampir 5 Ton Limbah Kain Jadi Produk Bernilai
- 08 Jul 2026 09:41 WIB
- Malang
RRI.CO.ID, Malang - Limbah tekstil menjadi salah satu persoalan lingkungan yang terus meningkat setiap tahun. Namun di tangan Sri Dewi Wirautami, sisa-sisa kain produksi justru berubah menjadi sumber ekonomi baru sekaligus membuka lapangan pekerjaan.
Founder Zama Homewear ini mengaku awalnya tidak pernah berniat membuang potongan kain hasil produksi. Semakin lama, limbah kain tersebut terus menumpuk hingga memenuhi satu ruangan.
"Saya berpikir, kain sebagus ini sayang kalau dibuang. Dari situlah kami mulai belajar melakukan recycle dan upcycle," katanya, Selasa (7/7/2026).
Sejak Agustus 2024, Zama mulai serius mengolah limbah produksi menjadi berbagai produk baru. Potongan kain berukuran sekitar 10 x 10 sentimeter disusun menggunakan teknik patchwork, kemudian dipadukan dengan quilting dan bordir hingga menjadi tote bag eksklusif.
Potongan kain yang sedikit lebih besar diolah menjadi pouch, sedangkan potongan memanjang dirajut secara manual menjadi keset. Selain itu, limbah kain juga disulap menjadi slipper, scrunchie, hingga berbagai aksesori rumah tangga. Seluruh produk tetap mempertahankan identitas utama Zama berupa bordir khas Malang.
Dalam kurun waktu sekitar satu setengah tahun, Zama mencatat hasil yang cukup signifikan.
Di antaranya:
- 2.600 lebih tote bag berhasil diproduksi.
- 1.697 pouch telah dihasilkan.
- Lebih dari 4.300 keset rajut dibuat secara manual.
- Sekitar 1.400 home slipper diproduksi.
- Ribuan scrunchie turut dihasilkan dari limbah kain.
Secara keseluruhan, hampir 4,8 ton limbah kain berhasil diselamatkan dari tempat pembuangan akhir. Tidak hanya itu, kegiatan daur ulang tersebut juga membuka lapangan pekerjaan bagi 18 orang dengan nilai perputaran ekonomi mencapai sekitar Rp282 juta.
Saat ini Zama mengaku telah berhasil memanfaatkan sekitar 80 persen limbah produksi. Masih terdapat sekitar 20 persen sisa kain yang belum dapat dimanfaatkan secara optimal.
Sri Dewi mengaku sedang mempelajari berbagai teknologi baru agar seluruh limbah dapat dimanfaatkan. Salah satunya dengan mempelajari teknik penghancuran kain menjadi bubur serat (fabric pulp), kemudian dicetak kembali menjadi lembaran kain bermotif marmer.
"Target saya adalah zero waste. Tidak ada lagi limbah produksi yang terbuang," ujarnya.
Tidak hanya mengolah limbah, sejak awal Zama juga memilih bahan baku yang lebih ramah lingkungan. Seluruh produk utama menggunakan kain katun 100 persen tanpa campuran polyester sehingga lebih mudah terurai secara alami.
Komitmen tersebut membuat Zama memperoleh berbagai apresiasi karena dinilai menjalankan prinsip ekonomi hijau secara nyata. Sri Dewi berharap semakin banyak pelaku UMKM yang mampu mengelola limbah produksinya sendiri sehingga mampu mengurangi beban lingkungan sekaligus menciptakan nilai ekonomi baru.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....