Harga Kedelai Impor Naik Rp1.100 per Kilogram, Perajin Tempe Mulai Tertekan

  • 23 Mei 2026 11:00 WIB
  •  Malang

RRI.CO.ID, Malang - Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat mulai dirasakan pelaku usaha tahu dan tempe di Kota Malang. Kenaikan harga kedelai impor yang menjadi bahan baku utama produksi menyebabkan biaya usaha meningkat dan menekan omzet para perajin.

Ketua Primer Koperasi Produsen Tahu Tempe Indonesia (Primkopti) “Bangkit Usaha” Kota Malang, Chamdani, mengatakan kenaikan harga kedelai terjadi secara bertahap sejak menjelang Lebaran hingga saat ini.

“Kalau harga kedelai pasca menjelang Lebaran sampai hari ini kenaikannya kurang lebih 10 persen dari harga semula,” ujarnya dalam Dialog Malang Menyapa, Jumat 22 Mei 2026.

Menurut Chamdani, harga jual kedelai saat ini Rp 10.600 sementara harga sebelum lebaran Rp 9.600. Kenaikan harga sekitar Rp1.000 hingga Rp1.100 per kilogram dan tidak terjadi sekaligus, melainkan melalui beberapa kali penyesuaian harga.

“Kenaikannya bertahap, mungkin hampir tujuh kali. Ada yang naik Rp100, Rp150, sampai akhirnya total sekitar Rp1.000 sampai Rp1.100 per kilogram,” katanya.

Ia menjelaskan sebagian besar kebutuhan kedelai perajin tahu dan tempe di Kota Malang masih bergantung pada pasokan impor. Berdasarkan informasi yang diterimanya dari importir, kedelai mayoritas berasal dari Amerika Serikat.

“Kalau berdasarkan informasi dari importir, sebagian besar kedelai berasal dari Amerika dan sebagian kecil kemungkinan dari Argentina,” ujarnya.

Chamdani menuturkan hampir seluruh perajin tempe di Kota Malang menggunakan kedelai impor karena ketersediaannya lebih terjamin dibandingkan kedelai lokal.

“Mayoritas perajin tempe memakai kedelai impor. Bahkan yang beredar di Malang maupun Indonesia sebagian besar memang kedelai impor,” katanya.

Ia menilai persoalan utama bukan terletak pada kualitas kedelai lokal, melainkan rendahnya minat petani menanam kedelai karena dianggap kurang menguntungkan dibanding komoditas lain.

Meski harga terus naik, Chamdani memastikan stok kedelai untuk kebutuhan produksi di Kota Malang masih relatif aman. Namun, pelaku usaha berharap nilai tukar rupiah segera membaik agar harga bahan baku tidak semakin membebani industri tahu dan tempe yang menjadi salah satu penopang ekonomi kerakyatan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....