CHIFEST 2026, Perayaan Bertemunya Budaya Tionghoa dan Indonesia

  • 17 Sep 2026 11:50 WIB
  •  Malang

RRI.CO.ID, Malang - Universitas Ma Chung kembali menghadirkan Chinese Indonesian Festival (CHIFEST) 2026 pada 19-20 September 2026. Festival ini menjadi ruang perjumpaan budaya yang mempertemukan warisan Tionghoa dengan kekayaan budaya Indonesia dalam semangat harmoni.

Mengusung tema “Fostering Transformative Convergence: Chinese Indonesian Culture Harmony”, CHIFEST 2026 tidak hanya mengajak masyarakat mengenal keberagaman budaya, tetapi juga melihat bagaimana perjumpaan antarkultur dapat melahirkan sesuatu yang baru, bermakna, dan transformatif.

Tema tersebut merefleksikan gagasan bahwa budaya bukan sesuatu yang statis dan berdiri sendiri. Dalam perjalanan sejarah Indonesia, budaya Tionghoa telah berinteraksi dengan berbagai tradisi lokal dan melahirkan bentuk-bentuk akulturasi yang dapat ditemukan dalam seni, bahasa, kuliner, arsitektur, tradisi, hingga kehidupan sosial masyarakat.

Rektor Universitas Ma Chung, Prof. Dr. Ir. Stefanus Yufra Menahen Taneo, M.S., M.Sc., mengatakan CHIFEST menjadi bagian dari upaya kampus menghadirkan pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada pengetahuan, tetapi juga pemahaman dan penghargaan terhadap keberagaman.

“Melalui CHIFEST, kami ingin menunjukkan bahwa ketika budaya yang berbeda bertemu dengan keterbukaan dan saling menghargai, perjumpaan tersebut dapat menghasilkan transformasi yang positif,” ujarnya.

Ia menambahkan, harmoni budaya tidak hanya dimaknai sebagai hidup berdampingan, tetapi juga proses untuk saling belajar dan menciptakan nilai baru bagi masyarakat.

Semangat tersebut diwujudkan melalui berbagai kegiatan yang memungkinkan pengunjung mengalami budaya secara langsung. Panggung utama menghadirkan musik tradisional Tionghoa, wushu, tarian tradisional Tiongkok, tarian modern dari UKM Dance dan SMA Kristen Kalam Kudus, band, serta paduan suara Universitas Ma Chung dan SMAK Kolese Santo Yusup.

Penampilan pemenang kompetisi menyanyi lagu Mandarin dan sejumlah pertunjukan dari sekolah mitra juga akan meramaikan festival. Penyanyi muda asal Malang, Letisha, turut dijadwalkan menjadi salah satu penampil.

Di ruang terbuka sekitar area rektorat, pengunjung dapat menyaksikan barongsai, leang leong, dan wayang potehi. Pertunjukan tersebut menjadi bagian dari upaya membawa warisan budaya lebih dekat kepada masyarakat.

Sementara itu, Chinese Corner menawarkan pengalaman interaktif melalui berbagai aktivitas, seperti mahjong, shufa atau kaligrafi Tionghoa, paper cutting, Chinese knot, hingga menghias lampion. Pengunjung juga dapat membawa pulang kerajinan tangan yang dibuat dalam kegiatan tersebut.

Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan dan Kerja Sama Universitas Ma Chung, Wawan Eko Yuliantgo, Ph.D., mengatakan pendekatan melalui pengalaman langsung penting dilakukan, terutama untuk mendekatkan budaya kepada generasi muda.

“Convergence menjadi penting karena budaya berkembang melalui perjumpaan. CHIFEST memberikan ruang bagi generasi muda untuk melihat bahwa budaya Tionghoa dan Indonesia bukan dua dunia yang berdiri sendiri,” katanya.

Menurutnya, kedua budaya telah saling berinteraksi dan memperkaya selama bertahun-tahun. Karena itu, generasi muda diharapkan tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga mengalami, memahami, dan meneruskan harmoni tersebut.

Selain pertunjukan budaya, CHIFEST 2026 menghadirkan Mini Museum Ma Chung. Area ini mengajak pengunjung menelusuri kontribusi komunitas Tionghoa dalam perjalanan pendidikan di Kota Malang.

Mini museum tersebut menghadirkan perjalanan Universitas Ma Chung sejak 1946 dan mengangkat filosofi “Yin Shui Si Yuan”, yang berarti ketika minum air, ingatlah sumbernya. Filosofi tersebut menjadi refleksi mengenai pentingnya menghargai sejarah dan kontribusi para pendahulu.

Dari sisi kuliner, Bazaar Kuliner CHIFEST menghadirkan beragam makanan Indonesia, Tionghoa, dan peranakan. Pilihan kuliner tersebut mencerminkan perjalanan akulturasi budaya yang berkembang dalam kehidupan masyarakat sehari-hari.

Untuk memberikan kenyamanan bagi pengunjung, area kuliner akan dibagi secara jelas antara tenant halal dan nonhalal.

Berbagai kompetisi juga menjadi bagian dari rangkaian CHIFEST 2026, di antaranya lomba menyanyi lagu Mandarin, cerdas cermat, video pendek, mewarnai dan mengurutkan angka Mandarin, hingga tingxue.

Melalui CHIFEST 2026, Universitas Ma Chung berharap festival tersebut dapat menjadi ruang yang mempertemukan heritage, education, creativity, dan community.

Festival ini sekaligus mendorong pemahaman bahwa keberagaman budaya bukan sekadar warisan masa lalu, tetapi juga dapat menjadi energi untuk menciptakan perubahan dan membangun harmoni di masa depan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....