RRI Menyatukan Generasi lewat Radio dan Warisan Budaya Nusantara

  • 31 Agt 2026 13:52 WIB
  •  Malang

RRI.CO.ID, Malang – Radio Republik Indonesia (RRI) menjadi bagian dari perjalanan hidup sejumlah generasi pendengarnya. Dari era radio tabung hingga perkembangan teknologi digital, RRI tidak hanya hadir sebagai media informasi dan hiburan, tetapi juga menjadi ruang yang memperkenalkan keluarga dan generasi muda pada kekayaan budaya Indonesia.

Hal itu terungkap dalam perbincangan bersama empat generasi pendengar RRI pada Jumat (21/8/2026). Mereka menceritakan pengalaman mendengarkan RRI sejak kecil hingga bagaimana siaran radio turut membentuk ketertarikan mereka terhadap seni dan budaya.

Salah satunya Hariadi. Ia mengenal RRI sejak masih kecil dan masih mengingat kebiasaan keluarganya mendengarkan radio bersama. Pada masa itu, radio menjadi salah satu sumber hiburan sekaligus informasi utama bagi masyarakat.

Hariadi bahkan masih mengingat radio tabung dengan antena panjang yang digunakan keluarganya untuk menangkap siaran RRI dari berbagai daerah.

“Kalau mendengar radio mulai jam 08.00 pagi sampai malam, sampai jam 05.00 pagi. Suaranya dikerasin karena wayang,” ujarnya.

Program wayang menjadi salah satu siaran yang paling membekas bagi Hariadi. Kebiasaan mendengarkan wayang melalui RRI kemudian menumbuhkan ketertarikannya terhadap seni pertunjukan dan kebudayaan.

Ketertarikan tersebut bahkan berkembang hingga mendorongnya membuat pertunjukan film keliling bersama para seniman.

Pengalaman serupa juga dirasakan Dwi, yang lahir pada era 1970-an. Ia mulai mengenal radio sejak berusia sekitar enam tahun. Pada masa itu, RRI menjadi salah satu sumber informasi penting bagi masyarakat, selain televisi milik negara, TVRI.

Menurut Dwi, RRI juga tidak terpisahkan dari kehidupan anak muda pada masanya. Berbagai program radio kerap menjadi bahan pembicaraan ketika ia dan teman-temannya berkumpul.

“Radio itu menjadi bagian dari kehidupan kita waktu muda. Apa yang disiarkan menjadi bahan pembicaraan ketika berkumpul dengan teman-teman,” tuturnya.

Sementara itu, Samwes mengaku ketertarikannya terhadap budaya juga tumbuh melalui siaran RRI yang didengarnya sejak kecil. Program wayang orang, ludruk, sandiwara radio hingga cerita kepahlawanan menjadi bagian dari pengalaman masa kecilnya dalam mengenal kebudayaan.

“Dari RRI saya mengenal banyak kesenian dan cerita-cerita tentang budaya. Itu menjadi pengalaman yang membekas sampai sekarang,” katanya.

Berbeda dengan generasi sebelumnya, Dio yang merupakan generasi 2000-an justru mengenal wayang melalui kebiasaan mendengarkan RRI bersama sang paman.

Kebiasaan tersebut kemudian menjadi bagian dari kesehariannya. Kini, Dio menekuni dunia pedalangan dan menjadi dalang wayang kulit gaya Malangan dengan penyajian yang disesuaikan dengan perkembangan zaman.

“Setiap mau tidur saya sama Pakde selalu disetelkan RRI, setel wayang. Akhirnya menjadi habit, kalau enggak nyetel wayang enggak bisa tidur,” kata Dio.

Kisah empat generasi tersebut menunjukkan bahwa perjalanan RRI tidak sekadar tentang perkembangan teknologi penyiaran. Radio juga menjadi bagian dari kehidupan keluarga, membangun kebiasaan mendengarkan, sekaligus menjadi pintu masuk bagi masyarakat untuk mengenal seni dan budaya.

Bagi Samwes, pengalaman lintas generasi tersebut menjadi bukti bahwa hubungan antara RRI dan pendengarnya telah terbentuk dalam perjalanan yang panjang.

Menurutnya, bentuk interaksi antara lembaga penyiaran dan masyarakat memang terus berubah seiring perkembangan teknologi. Namun, keterhubungan dengan pendengar harus tetap menjadi bagian penting dalam perjalanan RRI.

Ia berharap RRI mampu membawa kekayaan budaya yang tersimpan dalam sejarah siarannya ke dalam berbagai format yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat saat ini.

Dengan demikian, warisan budaya yang dahulu hadir melalui gelombang radio dapat terus menemukan pendengarnya di tengah perubahan zaman dan perkembangan ekosistem media digital. (devi resa)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....