Semangat Nasionalisme SPENSAPA dalam Kirab Budaya Nusantara 2026

  • 07 Sep 2026 10:01 WIB
  •  Malang

RRI.CO.ID, Malang - Semangat nasionalisme dan kreativitas pelajar mewarnai pelaksanaan Kirab Budaya Nusantara Desa Sumbermanjing Kulon 2026. Salah seorang peserta yang tampil mencuri perhatian adalah SMP Negeri 1 Pagak (SPENSAPA) yang menerjunkan sekitar 250 siswa kelas VIII dalam balutan kostum merah putih hasil kreativitas mereka sendiri.

Kepala SMP Negeri 1 Pagak, Mohammad Ali, S.Pd., SPENSAPA turut mengambil bagian dalam memeriahkan agenda budaya tersebut. Membawa tema “SANG SAKA: Perjalanan Sebuah Bangsa”, rombongan SPENSAPA tidak sekadar hadir sebagai peserta kirab, tetapi juga membawa pesan tentang perjalanan panjang bangsa Indonesia.

“Kirab ini membawa makna perjuangan para pahlawan, serta pentingnya menjaga nasionalisme di kalangan generasi muda,” katanya, Minggu (6/9/2026).

Ratusan siswa tampil mengenakan kostum bernuansa merah dan putih. Kostum tersebut bukan sekadar pakaian pertunjukan, melainkan buah kreativitas yang dikembangkan dan dibuat oleh para siswa.

Konsep sekaligus penataan kostum digarap oleh Kharisma Hakiki Putra Listyono, S.Kep. dan Haris Setyawan, S.Pd. Konsep “Sang Saka” diterjemahkan melalui dominasi warna merah putih, atribut kepahlawanan, serta berbagai ornamen yang menggambarkan perjalanan dan semangat perjuangan bangsa Indonesia.

Kharisma Hakiki Putra Listyono, S.Kep. menjelaskan bahwa keikutsertaan SPENSAPA dalam kirab budaya tersebut merupakan bagian dari implementasi program nasionalisme yang selama ini terus dikembangkan di sekolah.

Menurutnya, nasionalisme menjadi salah satu dari tiga kegiatan unggulan dan kegiatan rutin SPENSAPA BERGERAK, bersama dengan program Religius dan Cinta Lingkungan.

“Hal ini merupakan implementasi dari kegiatan Nasionalisme yang rutin dan menjadi tiga kegiatan unggulan serta kegiatan rutin SPENSAPA BERGERAK, selain Religius dan Cinta Lingkungan,” tutur Kharisma.

Melalui kegiatan tersebut, siswa tidak hanya memperoleh pemahaman nasionalisme melalui pembelajaran di kelas. Nilai-nilai kebangsaan justru dihadirkan melalui pengalaman langsung: berkarya, berproses, bekerja sama, tampil di tengah masyarakat, sekaligus mengenal kembali sejarah perjuangan bangsa.

Hal inilah yang menjadi kekuatan utama konsep “Sang Saka”. Bendera Merah Putih tidak hanya diposisikan sebagai simbol negara, tetapi dimaknai sebagai bagian dari perjalanan sejarah bangsa yang harus terus diwariskan kepada generasi berikutnya.

Kepala SMP Negeri 1 Pagak, Mohammad Ali, S.Pd., menegaskan bahwa keterlibatan SPENSAPA dalam kegiatan tersebut memiliki tujuan yang lebih besar daripada sekadar memeriahkan acara.

“Tujuan kami bukan hanya meriah-meriah saja. Kami ingin anak-anak muda ingat, bahwa nasionalisme harus dipatri dalam hati setiap siswa,” ungkap Mohammad Ali.

Ia menambahkan, nilai nasionalisme tidak semestinya berhenti pada hafalan mengenai sejarah, simbol negara, maupun nama-nama pahlawan.

“Nasionalisme harus dirayakan, bukan hanya dihafal,” tegasnya.

Pesan tersebut kemudian diwujudkan dalam keseluruhan penampilan SPENSAPA. Para siswa tidak hanya berjalan dalam barisan, tetapi membawa sebuah cerita tentang bangsa Indonesia melalui kostum, koreografi, narasi, hingga atraksi penutup.

Kesuksesan penampilan SPENSAPA juga tidak lepas dari kekompakan seluruh unsur sekolah. Dewan guru dan karyawan turut aktif mendukung serta menyukseskan keikutsertaan siswa dalam Kirab Budaya Nusantara.

Ketua panitia internal SPENSAPA, Arif Rahmanhudi, S.Pd., turun langsung mengawal kegiatan. Ia didampingi KPB Kesiswaan, Danu Susanto, S.E., beserta stafnya, Sefin Nur Aisyah, S.Si.

Keterlibatan tersebut menunjukkan bahwa kegiatan tidak hanya menjadi agenda siswa, tetapi menjadi gerakan bersama seluruh warga sekolah.

Dengan jumlah peserta mencapai sekitar 250 siswa, koordinasi menjadi bagian penting. Mulai dari persiapan kostum, penataan barisan, pendampingan peserta, hingga penampilan di depan panggung kehormatan dilakukan secara bersama-sama.

Penampilan SPENSAPA kemudian mencapai puncaknya saat rombongan tiba di depan panggung kehormatan.

Atraksi tersebut menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari konsep “Sang Saka: Perjalanan Sebuah Bangsa”. Para siswa menampilkan Tari Sri Aji, tarian khas SPENSAPA yang mengangkat cerita sejarah Desa Sumbermanjing Kulon.

Pertunjukan kemudian diperkaya dengan narasi mengenai semangat perjuangan para pahlawan. Nama Kyai Darso dan Sang Patriot Hamid Rusdi turut diangkat sebagai simbol keberanian dan pengorbanan dalam memperjuangkan bangsa.

Sebagai penutup, seluruh peserta bersama-sama menyanyikan “Indonesia Pusaka”. Suasana pun berubah menjadi momen reflektif, ketika ratusan siswa dalam balutan merah putih menyuarakan kecintaan terhadap tanah air.

Bagi SPENSAPA, kirab budaya bukan sekadar parade. Di balik kemeriahan kostum dan atraksi, terdapat proses pendidikan karakter yang ingin ditanamkan kepada peserta didik: nasionalisme, kreativitas, gotong royong, keberanian, dan penghargaan terhadap sejarah lokal maupun sejarah bangsa.

“Sang Saka” akhirnya bukan hanya menjadi tema penampilan. Ia menjadi pesan yang ingin dibawa SPENSAPA kepada masyarakat: perjalanan sebuah bangsa akan terus berlanjut, dan generasi muda hari ini adalah bagian dari perjalanan tersebut. Merah putih dikenakan, sejarah dikenang, nasionalisme diwujudkan. (Kharisma Hakiki Putra Listyono dan Haris Setyawan)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....