Kirab Tirta Amerta Sari: Ungkapan Syukur dan Upaya Konservasi di Sumberawan
- 10 Jul 2026 11:46 WIB
- Malang
RRI.CO.ID, Malang – Di lereng Gunung Arjuno yang tersembunyi dari hiruk-pikuk jalur lintas daerah, warga Dusun Sumberawan menjaga sebuah tradisi yang telah berlangsung turun-temurun bernama Kirab Tirta Amerta Sari. Ritual ini digelar setiap bulan Sura di kawasan Candi Sumberawan, Desa Toyomarto, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Sebuah situs yang berada pada ketinggian sekitar 650 meter di atas permukaan laut, dengan suhu udara sejuk berkisar 22-26°C.
Bagi orang luar, kirab ini mungkin tampak sekadar upacara adat. Namun di balik kirab tersebut, tersimpan sebuah sistem menjaga alam yang telah bekerja jauh sebelum istilah konservasi lingkungan dikenal luas.
Air Kehidupan yang Menjadi Asal-usul Nama Desa
Tirta amerta berarti air kehidupan, minuman para dewa. Dari sinilah nama Desa Toyomarto berasal toyo yang berarti air, dan amerta yang berarti kehidupan. Warga meyakini mata air Sumberawan adalah terusan langsung dari Gunung Arjuno, gunung yang sejak era Jawa Kuno dianggap suci oleh masyarakat Jawa. Keyakinan inilah yang memperkuat status mata air tersebut sebagai sesuatu yang tidak sekadar bersifat fisik, melainkan juga sarat kekuatan ilahi.
Candi Sumberawan sendiri bukan milik satu kelompok keyakinan saja. Meski awalnya dikenal sebagai tempat peribadahan umat Buddha, kini candi ini menjadi ruang bersama bagi siapa pun yang meyakini adanya elemen sakral di dalamnya, lintas agama dan kepercayaan.
Ikatan Batin yang Melahirkan Cara Pandang Baru Soal Air
Menurut penelitian mahasiswa Universitas Negeri Malang Program Studi S2 Pendidikan Geografi, Desak Putu Norma Dewi yang menelusuri fenomena ini dari kacamata geografi budaya mengarakan bahwa, Masyarakat Sumberawan memiliki apa yang disebut place attachment. Place attachment adalah ikatan emosional dan kognitif yang terjalin antara seseorang dengan suatu lingkungan atau tempat tertentu.
"Ikatan ini terbentuk melalui pengalaman, kenangan, dan makna personal yang diasosiasikan individu dengan lokasi tersebut," ujarnya, Jumat (10/7/2026).
"Dinamika Place attachment ditunjukkan dari kelekatan batin dengan mata air di sekitar candi, yang terbentuk bukan hanya dari kedekatan fisik, tapi juga kenangan dan makna yang diwariskan lintas generasi”.
Peneliti juga menambahkan dari kelekatan itu, lahir kosmologi air masyarakat Dusun Sumberawan. Mereka membedakan dua kategori: banyu, air biasa untuk kebutuhan sehari-hari, dan tirtha, air suci yang hanya bisa didapat lewat prosesi khusus dari mata air di area candi. Pembedaan ini menegaskan bahwa bagi warga Sumberawan, air bukan sekadar sumber daya ia punya nilai spiritual tersendiri.
Prosesi yang Diwariskan Turun-temurun
Berdasarkan penuturan sesepuh dan warga setempat melalui wawancara yang dilakukan oleh peneliti, kirab ini rutin digelar setiap bulan Sura sebagai ungkapan syukur atas melimpahnya air di Dusun Sumberawan. Selain itu, tradisi ini juga menjadi ajang mempererat silaturahmi antarwarga sekaligus napak tilas jejak leluhur mereka.
Kirab dimulai dengan seluruh warga Dusun Sumberawan mengenakan pakaian adat serba hitam, berjalan bersama menuju kawasan candi. Sebanyak 13 perwakilan putri memimpin barisan sambil membawa kendi untuk mengambil air dari mata air di area Candi Sumberawan. Puncak acara ditandai dengan prosesi memutari stupa, dipimpin langsung oleh sesepuh dusun. Rangkaian kirab ditutup dengan doa dan makan nasi tumpeng bersama di luar area candi.
Ketika Kepercayaan Menjadi "Sabuk Pengaman" Lingkungan
Peneliti juga menambahkan bahwa di tengah banyak kekhawatiran mengenai krisis air dan kerusakan lingkungan, Kirab Tirta Amerta Sari memiliki fungsi tersembunyi untuk meredakan eco-anxiety, yakni kecemasan warga terhadap masa depan lingkungan mereka. Melalui ritual ini, rasa was-was tersebut diubah menjadi rasa syukur dan komitmen bersama untuk terus menjaga kelestarian air.
Kepercayaan merupakan letak inti dari kekuatan tradisi ini. Status tirtha sebagai air suci ternyata menciptakan semacam "sabuk pengaman" kultural bagi kawasan candi dan mata airnya. Warga tidak akan sembarangan melakukan aktivitas yang berpotensi mencemari zona yang dianggap sakral itu, bukan karena aturan tertulis, melainkan karena rasa takut akan sanksi sosial maupun spiritual.
“Mekanisme inilah yang menjadikan geofolklor dan sistem nilai budaya lokal sebagai instrumen konservasi alam sekaligus pelestarian sejarah yang efektif, jauh sebelum kawasan ini mendapat perlindungan formal apa pun. Karena dianggap suci, kawasan mata air dan candi diperlakukan berbeda dari ruang keseharian biasa. Ada relasi timbal balik di sana, candi memberi nilai sejarah dan spiritual pada mata air, sementara keberadaan mata air itu sendiri membuat candi tetap hidup karena terus digunakan sebagai ruang ritual bukan sekadar situs purbakala yang senyap” ujar peneliti lebih lanjut.
Bagi warga Dusun Sumberawan yang selama ini menjadi pelestari tradisi ini, penelitian-penelitian seperti ini diharapkan mampu memperkuat legitimasi sekaligus kepercayaan diri mereka dalam mempertahankan Kirab Tirta Amerta Sari sebagai bentuk konservasi berbasis kearifan lokal di tengah tekanan modernisasi yang terus mendesak dari segala arah.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....