Merawat Mata Air Kehidupan: Hatur Tirta Amerta
- 14 Agt 2026 10:23 WIB
- Malang
RRI.CO.ID, Malang - Upaya melestarikan lingkungan sekaligus merawat warisan budaya leluhur kembali digaungkan oleh warga Kelurahan Penanggungan, Kota Malang. Ribuan pasang mata menjadi saksi khidmatnya prosesi adat "Hatur Tirta Amerta" yang digelar di kawasan bantaran Kali Brantas.
Acara yang memadukan ritus spiritual, edukasi lingkungan, dan pesta rakyat ini menjadi salah satu magnet utama dalam rangkaian pelestarian budaya sungai di Kota Malang, sekaligus menjadi panggung refleksi hubungan antara manusia, alam, dan Sang Pencipta.
Makna Dibalik Hatur Tirta Amerta
Dalam bahasa Jawa dan Sanskerta, Tirta berarti air suci, sedangkan Amerta bermakna inti sari kehidupan yang abadi. Tradisi ini pada dasarnya adalah bentuk pemuliaan dan rasa syukur masyarakat atas ketersediaan air yang melimpah dari Kali Brantas, sungai terpanjang kedua di Pulau Jawa yang membelah Bumi Arema.
Prosesi dimulai dengan arak-arakan warga dan sesepuh kelurahan yang mengenakan busana adat Nusantara. Mereka berjalan beriringan menuju titik sumber air di aliran sungai yang telah disucikan, membawa kendi-kendi tanah liat serta berbagai sesaji hasil bumi sebagai lambang kemakmuran dan sedekah alam.
Kisah Garudeya: Meruwat Sungai,
Norma Dewi, Mahasiswa S2 Pendidikan Geografi UM Menyelisik lebih dalam ritus ke palung maknanya melalui wawancara dengan narasumber langsung.
“Ritus luhur ini sejatinya meminjam spirit dari epos agung Garudeya. Dalam mitologi klasik Nusantara yang terpahat pada candi-candi di Jawa Timur, dikisahkan ketaatan dan darma tanpa batas sang Garudeya yang berjuang membebaskan ibundanya, Dewi Winata, dari belenggu perbudakan. Sebagai syarat penebusan sang ibu, Garudeya rela mengarungi aral rintangan demi mendapatkan Tirta Amerta air suci sari pati keabadian” ujar Mbah Haryono dalam wawancara, Jumat (14/8/2026).
Bagi warga Penanggungan, epik puitis ini tidak sekadar didongengkan, melainkan diejawantahkan menjadi sebuah laku ruwatan (penyucian) agung. Jika Garudeya membebaskan sang ibunda dari perbudakan, maka ritus ini adalah ikhtiar kolektif warga untuk membebaskan "Ibu Pertiwi" yang mewujud dalam aliran Kali Brantas dari belenggu pencemaran, keserakahan, dan kerusakan lingkungan.
"Pengambilan air suci ini menjadi simbol meruwat sungai. Sebuah doa dan harapan agar Kali Brantas dikembalikan pada kesuciannya, senantiasa membasuh lara bumi, dan terus mengalirkan kehidupan abadi yang menghidupi peradaban”. tambah Mbah Haryono dalam wawancaranya.
“Dilihat dari lensa Geografi Budaya, Ritus ini bukan hanya sekedar budaya, namun juga sebagai perwujudan Konversasi Sumber Daya Air berbasis Kearifan Lokat. Perilaku ini tentunya dilakukan secara sadar melalui rasa keterikatan manusia dengan lingkungannya” ujar peneliti lebih lanjut.
Nilai-nilai luhur dari cerita Garudeya tersebut diterjemahkan menjadi aksi nyata. Penyelenggaraan Hatur Tirta Amerta Sari di Kelurahan Penanggungan dirangkai dengan gerakan ekologi akar rumput, antara lain:
Susur dan Bersih Sungai: Warga bergotong-royong membebaskan bantaran Kali Brantas dari belenggu sampah plastik dan limbah rumah tangga.
Penebaran Benih Ikan: Mengembalikan ekosistem endemik sungai yang mulai terancam kelestariannya.
| Baca juga: Lestarikan Budaya, Warga Rawat Sumber Air |
Penanaman Bibit Pohon: Menanam pohon penguat tebing di sekitar Daerah Aliran Sungai (DAS) untuk menjaga resapan air dan mencegah longsor.
Kepedulian ini menjadi contoh nyata bagaimana kearifan lokal (local wisdom) dapat berjalan selaras dengan kampanye modern pelestarian lingkungan.
Pemerintah Kota Malang dan pegiat pariwisata lokal merespons positif inisiatif luhur warga ini. Ke depannya, tradisi Hatir Tirta Amerta diharapkan tidak hanya menjadi ritus internal warga kampung, tetapi diproyeksikan masuk ke dalam kalender wisata (Calendar of Event) Kota Malang.
Dengan balutan narasi filosofis yang kuat dan pengelolaan yang tepat, bantaran Kali Brantas di Kelurahan Penanggungan memiliki potensi besar untuk menjadi destinasi wisata budaya tematik yang mengedukasi setiap peziarah budaya tentang pentingnya menghormati sejarah, merawat alam, dan memuliakan air sebagai sumber peradaban.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....