Tradisi Cukur Rambut Jadi Simbol Pembuangan Sukerta dalam Ruwatan RRI Malang
- 09 Jul 2026 13:16 WIB
- Malang
RRI.CO.ID, Malang – Rangkaian Ruwatan Bersama RRI Malang yang digelar pada Minggu Pon, 5 Juli 2026, menghadirkan prosesi cukur rambut sebagai simbol pelepasan sukerta atau segala hal buruk yang diyakini dapat menghambat perjalanan hidup seseorang. Tradisi ini menjadi salah satu bagian penting dalam ritual ruwatan yang dipimpin oleh Dalang Ki H. Joko Setiono, ST., M.MT dengan lakon "Manik Moyo Jagat Ginelar".
Dalam prosesi tersebut, setiap peserta menjalani pemotongan sebagian ujung rambut setelah mengikuti doa bersama. Bagi masyarakat Jawa, rambut melambangkan berbagai pikiran, keinginan, hingga sifat yang melekat pada diri manusia. Memotong ujung rambut dimaknai sebagai upaya membuang energi negatif, kesialan, dan sifat-sifat buruk agar seseorang dapat memulai kehidupan yang lebih baik.
Sebelum prosesi pemotongan dimulai, Ki H. Joko Setiono memimpin doa yang berisi harapan agar segala sukerta ikut terlepas bersama ujung rambut yang dipotong. Dalam doa tersebut juga dipanjatkan permohonan agar yang tersisa dalam diri peserta hanyalah keberkahan, keselamatan, kesehatan lahir dan batin, serta kehidupan yang lebih bersih dan tenteram.
Dalang Ruwatan, Ki H. Joko Setiono, ST., M.MT, menjelaskan bahwa prosesi cukur rambut bukan sekadar tradisi turun-temurun, melainkan simbol penyucian diri.
"Rambut itu melambangkan berbagai pola pikir manusia. Ada yang baik, ada yang buruk, ada kemarahan, ada keinginan yang tidak baik. Karena itu ujung rambut dipotong sebagai simbol memisahkan segala sukerta agar ikut lepas. Semoga yang tertinggal hanya berkah, keselamatan, kesehatan jasmani dan rohani, serta hidup yang lebih baik," ungkap Ki Joko dalam acara Ruwatan di RRI Malang, Kamis (9/7/2026)
Ia menambahkan, makna utama ruwatan bukan terletak pada ritual fisiknya, tetapi pada niat setiap peserta untuk memperbaiki diri dan mendekatkan diri kepada Tuhan.
Melalui Siaran Langsung Ruwatan Bersama, RRI Malang tidak hanya menghadirkan hiburan berupa pertunjukan wayang kulit, tetapi juga ikut melestarikan nilai-nilai budaya Jawa sebagai bagian dari warisan budaya bangsa. Prosesi ruwatan menjadi pengingat bahwa setiap manusia memiliki kesempatan untuk meninggalkan hal-hal buruk dan memulai kehidupan dengan harapan baru.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....