Yadnya Kasada Jadi Media Edukasi Budaya bagi Generasi Muda Tengger

  • 31 Mei 2026 20:41 WIB
  •  Malang

RRI. CO. ID, Probolinggo - Ritual adat terbesar masyarakat Hindu Tengger, Yadnya Kasada, yang digelar setiap tahun di kawasan Gunung Bromo, tidak hanya menjadi wujud rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa. Tradisi sakral ini juga menjadi sarana pendidikan budaya bagi generasi muda agar mengenal dan melestarikan warisan leluhur.

Sejak dini hari, ribuan warga Tengger dari berbagai desa di sekitar kawasan Bromo memadati jalur menuju kawah. Mereka membawa berbagai sesaji berupa hasil pertanian dan hewan ternak, seperti sayuran, buah-buahan, kambing, ayam, hingga bebek untuk dipersembahkan dalam prosesi Yadnya Kasada.

Dengan berjalan kaki mendaki ratusan anak tangga menuju bibir kawah, masyarakat Tengger mengikuti ritual dengan penuh khidmat. Di balik prosesi tersebut, tersimpan nilai-nilai spiritual dan budaya yang diwariskan secara turun-temurun.

Salah seorang warga Suku Hindu Tengger, Edi Piter, mengatakan tradisi Yadnya Kasada merupakan simbol rasa syukur masyarakat kepada Sang Pencipta atas berkah kehidupan, hasil panen, dan keselamatan yang diberikan selama setahun terakhir.

“Setiap tahun masyarakat Tengger dengan penuh kesederhanaan membawa hasil bumi dan ternak untuk dipersembahkan di kawah Bromo. Namun persembahan itu tidak hilang begitu saja. Ada para pemarit yang menunggu untuk mengambilnya sehingga hasil bumi maupun ternak masih dapat dimanfaatkan kembali. Nilai utama dari tradisi ini adalah ungkapan syukur kepada Tuhan,” ujarnya, Minggu (31/5/2026).

Menariknya, ritual tersebut tidak hanya diikuti oleh orang dewasa dan remaja. Banyak orang tua yang sengaja mengajak anak-anak mereka untuk turut menyaksikan dan mengikuti prosesi Yadnya Kasada. Bahkan, sejumlah ibu tampak menggendong balita saat mendaki menuju kawah Bromo.

Bagi masyarakat Tengger, keterlibatan anak-anak dalam ritual adat menjadi bagian penting dalam proses pewarisan budaya. Mereka ingin generasi penerus memahami makna tradisi yang telah dijaga selama ratusan tahun.

Mentari, salah seorang warga Tengger, mengaku sengaja membawa cucunya mengikuti prosesi Yadnya Kasada agar mengenal budaya leluhurnya sejak usia dini.

“Saya mengajak cucu saya ke kawah Bromo agar kelak memahami makna budaya dan tradisi yang masih dilestarikan hingga sekarang. Bukan hanya saya, banyak warga Tengger lainnya yang juga membawa anak-anak sebagai bentuk edukasi budaya sejak dini,” katanya.

Melalui pelaksanaan Yadnya Kasada 2026, masyarakat Tengger berharap memperoleh berkah berupa hasil panen yang melimpah, kehidupan yang damai, makmur, dan sejahtera. Selain itu, mereka juga berharap tradisi Yadnya Kasada tetap lestari serta kelestarian alam kawasan Gunung Bromo dapat terus terjaga sebagai warisan bagi generasi mendatang.

Tradisi yang telah menjadi bagian identitas masyarakat Tengger ini membuktikan bahwa budaya tidak hanya dijaga melalui pelaksanaan ritual, tetapi juga melalui proses pendidikan dan pengenalan nilai-nilai luhur kepada generasi penerus sejak usia dini.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....