Jenang Suro Simbol Syukur dan Kebersamaan Masyarakat Jawa Turun Temurun
- 23 Jun 2026 17:44 WIB
- Malang
RRI.CO.ID, Malang - Bulan Suro dalam penanggalan Jawa kembali mengingatkan masyarakat pada salah satu warisan kuliner tradisional yang sarat makna, yakni Jenang Suro. Hidangan khas yang identik dengan bulan Suro atau bertepatan dengan Muharam dalam kalender Hijriah ini tidak hanya dikenal karena cita rasanya yang khas, tetapi juga karena nilai budaya dan spiritual yang diwariskan secara turun-temurun oleh masyarakat Jawa.
Ketua Umum Forum Pamong Kebudayaan (FPK) Jawa Timur, Kie Bagong Sabdo Sinukarto, mengatakan Jenang Suro memiliki kedudukan penting dalam berbagai tradisi masyarakat Jawa. “Jenang Suro merupakan salah satu makanan tradisional yang dikenal di berbagai daerah di Indonesia, khususnya di Pulau Jawa. Selain memiliki cita rasa yang khas, Jenang Suro juga mengandung nilai budaya dan spiritual yang diwariskan secara turun-temurun,” ujarnya saat memberikan keterangan, Minggu (21/6/2026).
Menurutnya, bulan Suro dipandang sebagai bulan istimewa yang diisi dengan berbagai kegiatan doa bersama, selamatan, dan tradisi budaya lainnya sebagai wujud rasa syukur serta harapan akan keselamatan di masa mendatang. “Jenang Suro menjadi salah satu sajian utama dalam kegiatan tersebut. Makanan ini melambangkan kebersamaan, rasa syukur, dan kepedulian sosial,” kata Kie Bagong. Ia menambahkan, setelah dimasak, jenang biasanya dibagikan kepada tetangga dan kerabat sebagai simbol mempererat hubungan antarwarga.

Foto. Jenang Suro
Ki Bagong menjelaskan, Jenang Suro umumnya dibuat dari beras, santan, dan aneka rempah yang menghasilkan aroma serta rasa khas. Di beberapa daerah, masyarakat menambahkan kacang-kacangan, ayam, telur, maupun pelengkap lain sesuai tradisi setempat. “Proses pembuatannya memerlukan ketelatenan karena bahan-bahan harus dimasak dalam waktu yang cukup lama sambil terus diaduk agar menghasilkan tekstur yang lembut dan tidak menggumpal,” jelasnya. Tradisi memasak tersebut juga kerap dilakukan secara gotong royong oleh warga.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa Jenang Suro merupakan bagian dari identitas budaya masyarakat Jawa yang perlu terus dijaga keberadaannya. “Di tengah perkembangan zaman, Jenang Suro tetap menjadi simbol penghormatan terhadap tradisi leluhur. Generasi muda diharapkan dapat mengenal dan menjaga keberadaan kuliner tradisional ini agar tidak hilang ditelan modernisasi,” tuturnya. Menurutnya, pelestarian tradisi Jenang Suro berarti turut menjaga nilai-nilai kebersamaan, gotong royong, dan rasa syukur yang menjadi bagian penting dari warisan budaya bangsa.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....