Stoikisme Jawa, Jalan Ketenangan Batin dalam Piwulang Nusantara

  • 24 Feb 2026 17:35 WIB
  •  Malang

RRI.CO.ID, Malang - Stoikisme kerap dipahami sebagai filsafat Barat yang menekankan sikap menerima realitas apa adanya, menjaga ketenangan jiwa, serta bersikap kritis terhadap materialisme. Namun dalam khazanah budaya Jawa, nilai-nilai serupa sesungguhnya telah lama hidup dan dipraktikkan melalui berbagai piwulang dan laku hidup masyarakatnya.

Hal tersebut diungkap dalam program Obrolan Pesona Budaya pada Senin malam (23/2/2026), dengan menghadirkan narasumber Krt. Eko Agus Susilo, S.Sos., M.Si. Dalam pemaparannya, ia menyampaikan bahwa istilah Stoikisme Jawa memang masih menjadi perdebatan, apakah merupakan hasil pengaruh pemikiran Barat atau tumbuh secara mandiri dari kearifan lokal Jawa.

"Meski demikian, nilai-nilai yang diajarkan dalam tradisi Jawa dinilai memiliki pendekatan yang lebih holistik. Dalam budaya Jawa, ketenangan batin tidak hanya dicapai melalui rasio, tetapi melalui laku hidup, etika, dan spiritualitas,” jelasnya.

Sejumlah piwulang Jawa, seperti nerima ing pandum dan urip mung sak dermo ngelakoni, mengajarkan sikap batin untuk menerima peran hidup dengan kesadaran penuh. Ajaran tersebut bukan dimaknai sebagai kepasrahan pasif, melainkan upaya sadar untuk menjaga keseimbangan jiwa di tengah dinamika kehidupan.

Menurut Krt. Eko Agus Susilo, dalam tradisi piwulang Jawa terdapat puluhan ajaran atau piwulang yang substansinya menekankan pengendalian diri, penerimaan, serta pencarian ketenangan batin. Muaranya bertumpu pada tiga prinsip besar, salah satunya adalah manunggaling kawula gusti, yakni kondisi keselarasan antara manusia dan Tuhannya yang melahirkan keseimbangan hidup.

Salah satu piwulang yang disorot adalah ungkapan “suwung pamrih tebih ajrih”, yang bermakna bahwa ketika seseorang terbebas dari pamrih atau kepentingan pribadi, maka rasa takut akan menjauh. Ajaran ini menempatkan keikhlasan dan kejernihan niat sebagai sumber utama ketenangan jiwa.

Pemikiran serupa juga ditemukan dalam ajaran Ki Ageng Suryomentaram, yang menekankan pentingnya mengenal diri sendiri sebagai jalan menuju kesempurnaan hidup. Dalam ajarannya, manusia diajak memegang prinsip sa-nem, seperti sa-butuhe (secukupnya) dan sa-benere (sebenarnya), sebagai bentuk pengendalian keinginan dan kesadaran diri.

Sementara itu, piwulang gemi, nastiti, ati-ati kerap disalahartikan sebagai upaya meniadakan nafsu. Padahal, menurut narasumber, ajaran tersebut justru menekankan pengelolaan hasrat secara bijak agar tidak mengganggu keseimbangan batin.

“Dalam pandangan Jawa, nafsu tidak dimatikan, tetapi ditata dan dikendalikan agar selaras dengan kehidupan,” ujarnya.

Melalui pemahaman tersebut, Stoikisme Jawa dapat dipandang sebagai laku hidup yang relevan hingga kini, terutama di tengah masyarakat modern yang kerap menghadapi tekanan materialisme dan kegelisahan batin.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....