5 Dampak Buruk Kekenyangan, dari Syahwat hingga Keras Hati
- 09 Sep 2026 10:25 WIB
- Malang
RRI.CO.ID, Malang - Makan merupakan kebutuhan manusia untuk menjaga tubuh tetap sehat dan memiliki energi dalam menjalankan aktivitas. Namun, dalam ajaran Islam, makan juga perlu dilakukan secara seimbang dan tidak berlebihan. Kekenyangan bahkan disebut dapat memberikan dampak bukan hanya bagi kondisi fisik, tetapi juga terhadap kehidupan spiritual seseorang.
Hal tersebut disampaikan Ustazah Hajah Dewi Latifah dalam program Mutiara Pagi di Pro 1 RRI Malang. Dalam tausiah bertema “Lima Dampak Buruk dari Kenyang”, ia mengingatkan pentingnya mengendalikan porsi makan dan keinginan terhadap makanan.
Ustazah Dewi mengutip penjelasan Yahya bin Muadz Ar-Razi yang diriwayatkan dalam kitab Nasaih al-Ibad karya Syekh Nawawi Al-Bantani. Penjelasan tersebut menggambarkan rangkaian dampak yang dapat muncul ketika seseorang terlalu banyak makan.
“Barangsiapa yang banyak kenyangnya maka banyak dagingnya. Barang siapa yang banyak dagingnya, maka besar syahwatnya,” ujar Ustazah Dewi dalam siaran tersebut, Selasa (8/9/2026).
Menurutnya, rangkaian tersebut kemudian berlanjut. Ketika syahwat semakin besar dan tidak mampu dikendalikan, seseorang berpotensi semakin banyak melakukan dosa. Dosa yang terus dilakukan pada akhirnya dapat membuat hati menjadi keras.
| Baca juga: Hari Bumi Dorong Aksi Nyata Kelola Sampah |
“Barang siapa yang banyak dosanya maka keras hatinya,” jelasnya.
Ia menilai persoalan makan tidak semata-mata berkaitan dengan jumlah makanan yang masuk ke dalam tubuh. Jenis makanan yang dikonsumsi juga perlu menjadi perhatian, terutama menyangkut kehalalan, kebersihan, dan nilai gizinya.
Menurut Ustazah Dewi, seseorang seharusnya tidak menjadikan makanan lezat sebagai alasan untuk terus makan meskipun tubuh sebenarnya sudah tidak membutuhkan tambahan makanan.
Ia mengingatkan kembali prinsip yang disandarkan pada tuntunan Rasulullah, yakni makan ketika lapar dan berhenti sebelum kenyang. Prinsip tersebut dinilai dapat menjadi salah satu bentuk pengendalian diri.
“Makanlah ketika Anda lapar, berhentilah sebelum kenyang,” katanya.
Dalam dialog tersebut, sejumlah pendengar turut mengaitkan kebiasaan makan terlalu kenyang dengan rasa malas, mengantuk, hingga berkurangnya semangat beribadah.
Menanggapi pertanyaan seorang pendengar dari Lowokwaru, Kota Malang, Ustazah Dewi mengatakan kekenyangan memang dapat membuat seseorang merasa malas bergerak dan mengantuk. Kondisi tersebut pada akhirnya dapat mengganggu aktivitas, termasuk membaca Al-Qur'an dan beribadah.
“Makanan yang kita makan karena enaknya kita tidak terasa, yang akhirnya kekenyangan itu menjadikan orang malas, ngantuk malahan,” ujarnya.
Karena itu, ia mengajak masyarakat memiliki “rem” dalam mengatur keinginan. Menurutnya, segala sesuatu sebaiknya dilakukan secara seimbang, termasuk makan, minum, tidur, dan memenuhi berbagai keinginan dalam kehidupan sehari-hari.
“Pokoke makan, minum, tidur, ya itu kudu diatur. Jangan terlalu banyak, jangan terlalu sedikit. Yang sedang-sedang saja,” katanya.
Selain mengatur porsi makan, Ustazah Dewi juga menyarankan latihan berpuasa sebagai salah satu cara mengendalikan keinginan. Ia menyebut puasa Senin-Kamis sebagai salah satu pilihan yang dapat dilakukan sesuai kemampuan.
Menurutnya, kebiasaan berpuasa dapat membantu seseorang lebih mengenali batas kebutuhan tubuh sehingga tidak mudah mengikuti keinginan makan secara berlebihan.
“Makane awak dewe niki makan itu harus ada remnya. Sakjane reme dengan cara puasa Senin Kamis,” tuturnya.
Ia juga mengingatkan bahwa pengendalian diri tidak hanya diperlukan ketika seseorang sedang makan. Saat berpuasa pun, keinginan untuk membeli dan menyiapkan terlalu banyak makanan harus tetap dikendalikan.
“Jadi gak boleh dituruti. Ya secukupnya,” katanya ketika menanggapi fenomena keinginan makan berlebihan saat berpuasa.
Pada akhirnya, Ustazah Dewi mengajak masyarakat menjadikan pola makan sebagai bagian dari upaya menjaga keseimbangan hidup. Makanan boleh dinikmati, tetapi harus tetap memperhatikan kebutuhan, kehalalan, dan porsinya.
“Bolehlah kita makan tapi secukupnya, bolehlah kita masak tapi secukupnya. Kalau berlebih mubazir berikan saja kepada yang lebih membutuhkan,” pesannya.
Rangkaian lima dampak yang disampaikan dalam tausiah tersebut menjadi pengingat bahwa pengendalian diri tidak hanya menyangkut kesehatan fisik. Dalam perspektif yang disampaikan Ustazah Dewi, cara seseorang mengatur makan juga berkaitan dengan kemampuan mengendalikan hawa nafsu dan menjaga kehidupan spiritualnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....