Merdeka dengan Iman, Berkarya dengan Akhlak
- 31 Agt 2026 13:49 WIB
- Malang
RRI.CO.ID, Malang- Semangat kemerdekaan perlu diisi dengan kekuatan iman dan karya yang dilandasi akhlak. Kemerdekaan tidak hanya dimaknai sebagai kebebasan dari penjajahan, tetapi juga kesempatan bagi setiap masyarakat untuk menjadi pribadi yang produktif, terus belajar, serta menghasilkan karya yang memberikan manfaat dan kemaslahatan bagi sesama.
Dalam Mutiara Pagi RRI Malang pada Kamis (27/8/2026), Ustadz Dr. H. M. Amsiyono Q.A., SH, S.Ag, M.Sy mengatakan, kekuatan iman menjadi modal penting bagi seorang muslim dalam menjalani kehidupan dan menghadapi berbagai tantangan. Ia mengutip hadis riwayat Muslim dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Orang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada orang mukmin yang lemah.” Menurutnya, kekuatan tersebut harus diarahkan untuk bersungguh-sungguh melakukan perkara yang bermanfaat serta tidak mudah menyerah ketika menghadapi persoalan.
Semangat tersebut, lanjutnya, juga harus diwujudkan melalui kemauan untuk terus belajar dan meningkatkan kemampuan diri. Menurut Ustadz Amsiyono, proses mencari ilmu tidak mengenal batas usia karena menjadi bagian penting dalam membangun kualitas manusia. “Bersungguh-sungguhlah dalam kebaikan. Carilah ilmu, dari ayunan ibu sampai ke liang lahat,” ujarnya. Ia menilai, masyarakat yang terus belajar akan memiliki bekal lebih kuat untuk mengisi kemerdekaan melalui berbagai karya positif.
Ia menambahkan, kemerdekaan bangsa Indonesia merupakan rahmat dari Allah SWT yang harus disyukuri dengan tindakan nyata. Karena itu, kemerdekaan perlu diisi dengan produktivitas yang tetap berpegang pada nilai-nilai keimanan. “Kemerdekaan ini atas rahmat Allah Yang Maha Kuasa, maka untuk mengisi kemerdekaan harus mengisi dengan kemauan produktivitas dengan landasan iman,” katanya.
Dalam konteks berkarya, Ustadz Amsiyono menekankan bahwa pencapaian atau prestasi tidak boleh mengabaikan akhlak. Karya yang besar belum tentu memiliki nilai kemuliaan apabila proses untuk mendapatkannya dilakukan dengan cara yang buruk. “Karya hebat belum tentu mulia apabila dilakukan dengan cara yang buruk. Maka iman menjadi landasan dan akhlak menjadi ruh dalam berkarya,” tegasnya. Ia mengajak masyarakat untuk bekerja dengan hati nurani sehingga karya yang dihasilkan tidak hanya memberikan keuntungan bagi diri sendiri, tetapi juga membawa kebaikan bagi orang lain.
Menurutnya, nilai iman dan akhlak juga harus terlihat dalam menjalankan amanah, termasuk ketika seseorang memperoleh jabatan atau kepercayaan. Iman yang baik akan mendorong seseorang untuk tidak menipu, tidak mencari keuntungan pribadi, serta tidak menyalahgunakan jabatan. Ketika menghadapi masalah atau musibah, umat juga diingatkan untuk memohon pertolongan kepada Allah dan tidak larut dalam penyesalan. Dengan demikian, kemerdekaan dapat benar-benar diisi melalui pribadi-pribadi yang kuat dalam iman, produktif dalam berkarya, dan mulia dalam akhlak.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....