Marry or Not to Marry? Psikolog: Jangan Menikah karena Tekanan Sosial
- 19 Agt 2026 15:17 WIB
- Malang
RRI.CO.ID, Malang - Fenomena dilema antara memilih menikah (marry) atau tetap melajang (not to marry) semakin mencuat di kalangan Generasi Milenial dan Gen Z. Menanggapi hal tersebut, RRI Pro 2 Malang menggelar siaran edukatif "Jaga Malam Mental Health" bertajuk “To Marry or Not to Marry: Bedah Psikologi di Balik Komitmen Seumur Hidup”, Selasa (18/8/2026) malam.
Dalam siaran tersebut, Mentor Castlerock Indonesia sekaligus pakar psikologi, Meyke Kriegenbergh, S.Psi., CHRM, menegaskan bahwa tren pandangan anak muda terhadap institusi pernikahan kini telah mengalami pergeseran mendasar dibanding generasi terdahulu.
"Pernikahan saat ini bukan lagi sekadar kewajiban sosial atau tradisi untuk memenuhi ekspektasi keluarga. Anak muda sekarang cenderung melihat pernikahan dari sudut pandang kesejahteraan emosional, kesetaraan, dan kemitraan hidup," kata Meyke.
Meyke menambahkan, berdasarkan Teori Hierarki Kebutuhan Abraham Maslow, kebutuhan akan rasa kasih sayang dan memiliki (love and belonging) adalah hal yang alami. Namun, ia mengingatkan agar masyarakat tidak menjadikan pernikahan sebagai satu-satunya tolok ukur kebahagiaan.
"Kebutuhan rasa aman dan disayangi itu bisa dipenuhi lewat ikatan keluarga, sahabat, atau komunitas. Jika sebuah lembaga pernikahan justru merenggut rasa aman dan memicu stres tinggi, secara psikologis individu cenderung akan meninjau ulang urgensi pernikahan tersebut," tegasnya.
Menanggapi anggapan populer masyarakat mengenai rezeki yang akan datang secara otomatis setelah menikah, Meyke menyarankan agar pasangan tetap rasional dan melakukan perencanaan yang matang. Menurutnya, masalah finansial kerap menjadi akar pemicu konflik rumah tangga.
"Sebagai orang beriman kita wajib meyakini rezeki dari Tuhan, tapi pada kenyataannya masalah finansial itu pemicu nomor satu percekcokan. Ketidakpastian ekonomi memicu hormon stres, sehingga anggota keluarga berada dalam mode bertahan hidup (fight or flight) dan mudah tersulut emosi," jelas Meyke.
Ia juga menyoroti bahwa kesiapan emosional jauh lebih rumit dibanting finansial. Karena itu, ia mendorong pentingnya pemeriksaan psikologi pra-nikah (pre-marital test).
"Uang bisa dihitung pakai matematika, tapi kematangan emosi baru kelihatan pas ada masalah besar. Tes psikologi pra-nikah sangat krusial untuk memahami karakter dasar, gaya kelekatan emosional, dan cara mengatasi konflik sebelum diputuskan menyatu," imbuhnya.
Sementara itu, perwakilan Generasi Z, Nadia Chandra Kirana (Nana), turut membagikan pandangannya terkait cara menghadapi pertanyaan "kapan nikah" dari lingkungan keluarga tanpa memicu keretakan hubungan.
"Kita paham kalau bagi generasi tua, pertanyaan itu sering kali cuma basa-basi atau bentuk kepedulian. Jadi ga perlu langsung baper atau defensif. Dijawab saja dengan senyuman sambil minta doa yang baik," ujar Nana.
Sebagai penutup, Nana berpesan agar setiap individu tidak terburu-buru mengambil keputusan besar dalam hidup hanya karena dorongan orang lain.
"Menikah itu punya tantangannya sendiri, tidak menikah juga punya perjuangannya sendiri. Tidak ada opsi yang bebas dari risiko. Yang penting, pilihlah jalan yang sanggup kamu pertanggungjawabkan secara dewasa," pungkas Nana.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....